Sabtu, 26 September 2009 09.14
Pesta Awal Tahun Ajaran / II
Meja Slytherin"Tuhan, jauhkan makanan ini dari penyakit,
Amen."
Ada yang bilang kalau gadis itu percaya Tuhan, meski tak ada agama tertentu yang dianutnya?
Bisikan itu tanda percaya, terucap dari bibir seorang gadis yang rambutnya coklat keemasan di sebelah sana. Yang kedua kelopak matanya terkatup sesaat ketika bisikan itu terucap dari bibirnya, sebelum kembali terbuka memperlihatkan manik coklat terangnya yang cemerlang bonus tatapan tajam. Sepotong daging entah-bagian-apa langsung tertangkap indra penglihatannya, menjadi layar utama begitu kepala itu menunduk sedikit menguraikan rambutnya jatuh ke bahu. Profesor Dumbledore selesai mengucapkan pidato dan ini saatnya makan—kesampingkan sedikit masalah betapa-ia-membenci-Hogwarts demi kesehatan yang selalu ia jaga.
Charlotte itu perfeksionis, dan itulah yang membuat harga dirinya melambung melewati awan. Ia berusaha keras untuk itu, kau tahu? Sejak gadis itu kecil ayahnya telah menempanya sedemikian rupa. Hingga pertahanannya keras dan egonya serupa batu. Karena itu pula kepribadian dan sikapnya terbentuk seperti ini; egois, tak mau kalah, hati-hati, dan tak pernah mau terpuruk dalam kejatuhan terlalu lama.
Masa-masa ini akan berlalu sebentar lagi. Tak akan lama, setelah ia bisa menghirup lebih banyak lagi udara Hogwarts. Dan semangatnya akan bangkit, seperti ketika pertama kali ia menjejakkan kakinya di tempat ini. Dia itu Charlotte, dan fase muramnya hanya sebentar.
Gadis itu lagi-lagi menghela nafas, melirik sedikit ketika seseorang tiba-tiba saja duduk di sisi kirinya—namun tak melihat jelas siapa itu. Fokusnya lebih ke potongan steak di tangannya; bibirnya lagi-lagi bergumam sebentar sebelum kedua tangannya mengambil bagian masing-masing—satu garpu dan pisau di masing-masing tangan. Sayatan pertama membelah sedikit bagian steak di bagian ujung, yang langsung Charlotte tusuk dengan garpunya dan tak lama kemudian lumer di dalam mulutnya dalam beberapa kunyahan halus.
Perutnya terisi, meski baru sedikit, dan Charlotte bersyukur karenanya. Pada dasarnya ia adalah gadis baik-baik, perlu kalian garis bawahi itu. Yang naif dan memiliki keinginan tunggal : hidup yang sempurna; salahkah ia? Bahkan makannya pun harus sempurna, tanpa obrolan, tanpa gangguan, apalagi selaan—
...
—seperti garpunya diambil tiba-tiba dan dijadikan senjata untuk menakut-nakuti orang. Hampir saja gadis itu tersedak, kalau ia tak buru-buru menelan kunyahannya yang bahkan belum lumat. Manik coklat terangnya refleks membesar ketika sebuah tangan merenggut garpunya begitu saja, dan sontak membuat kepalanya menoleh ke arah orang yang telah seenaknya mengganggu ritual makannya yang takzim.
Tequilla Sirius—dia
lagi?!
Demi Merlin, apa sih yang ada di pikiran pemuda itu? Kenapa dia tidak menggunakan garpunya sendiri? Kenapa harus merebut garpu Charlotte? Dan kenapa harus orang itu yang duduk di sebelahnya? Charlotte menggerutu dalam hati, sementara matanya menyorot tajam, nafsu makannya mendadak hilang secara berangsur. Ia muak, apalagi dengan Tequilla Sirius di dekatnya yang menguarkan aura tidak menyenangkan. Tapi ini tempat umum, dan Charlotte tak boleh
kelepasan. Demi harga dirinya yang tinggi, yang tak mungkin ia gadaikan di depan seluruh orang hanya karena seorang Tequilla Sirius.
Tenang, Charlotte. Tenang... sejak kapan kau jadi ganas begini?
Sejak ada pemicunya, bodoh. Si Tequilla Sirius ini.Matanya mengerjap beberapa kali, masih sedikit tak percaya, ia kemudian menggeser posisi duduknya sedikit menjauhi Tequilla. Satu helaan nafas, Charlotte lalu meraih sepiala jus jeruk yang berada tak jauh darinya. Didekatkannya bibir piala ke mulutnya, namun bukannya minum yang dilakukannya malah kembali menghela nafas—kali ini lebih dalam.
"Tuhan, jauhkan aku dari
iblis yang terkutuk" bisiknya sedikit keras, sebal, sebelum dengan tangan bergetar mengalirkan isi piala ke dalam kerongkongannya yang perih karena hampir tersedak. Satu aliran, piala emas yang tadi terangkat kembali beradu dengan permukaan meja. Charlotte berdeham, memutar tubuhnya lagi menghadap Tequilla Sirius yang dengan barbarnya mengacungkan garpu.
"Ambilkan garpu baru untukku, Mr. Sirius," ujarnya lugas dengan tatapan tajam—meski sebenarnya nafsu makannya sudah tak ada lagi.