Sabtu, 26 September 2009 09.15
Pesta Awal Tahun Ajaran / III
Meja SlytherinAmbilkan garpu baru untukku, Mr. Sirius—Gadis itu tidak marah,
sayang—tidakkah kau merasakannya? Tak ada sedikit pun emosi menguar dari ucapannya barusan. Ketegasan itu tanda perintah—selebihnya halus dan lembut layaknya beledu. Charlotte bukan kaum barbar, emosi yang ia ungkapkan hanya sebatas ketika pandangannya menajam dan kata-katanya lebih ditekankan. Meski sebenarnya amarahnya menggelegak di dalam, dikiranya tadi gadis itu sudah memerankan perannya dengan baik. Sebagai pengendali emosi seperti yang selalu ia tampilkan di depan
semua orang demi
imagenya yang sempurna.
Lagipula apa salahnya? Garpu yang sudah direbut dan dipegang Tequilla Sirius tak steril lagi; memangnya tak ada yang lihat garpunya diapakan tadi? Menuntut pertanggungjawaban itu sudah sepantasnya, dan bertanggungjawab secara penuh atas apa yang telah diperbuat itu ciri kejantanan seorang lelaki. Tidak seenaknya, dan itu hakikat.
“Nih.” Charlotte menggeram tanpa suara begitu garpu yang kebersihannyatak terjamin itu ditusukkan lagi ke
steaknya, nafsu makannya yang mulai menyusut mendadak menguap begitu saja. Ekor matanya mengerling tak percaya, beralih ke Sirius kemudian ke
steak lagi—yang langsung didorongnya jauh-jauh dari hadapan. Perutnya mendadak kenyang tanpa alasan, dan kalaupun nafsu mengiris
steaknya masih ada, potongan daging itu akan terlihat tak lebih dari wajah Sirius yang menyebalkan.
Merlin, Charlotte dikutuk karena apa sih? Kenapa kesialan ini bertubi-tubi menimpanya?
Sementara Tequilla Sirius mengurusi pacarnya dan sekumpulan-orang yang entah mengapa mendadak harus diurusi, Charlotte kembali memutar tubuhnya ke depan—tak mau terlibat lebih jauh hingga dirinya kelepasan seperti di koridor tahun lalu.
Ini tempat umum, Charlotte. Tenang... tenang... Membuat diri sendiri tampak buruk di hadapan banyak orang hanya karena seorang laki-laki pirang bernama Tequilla Sirius bukanlah hal yang berharga untuk dilakukan, bahkan untuk dibayangkan sekalipun.
Priceless—sedangkan konsekuensinya seumur hidup.
Jadi Charlotte berusaha tak peduli. Kini menarik sepiring
cheese cake untuk meredakan emosi dan mengisi perut. Mengambil satu garpu baru yang sebelumnya ia pelototi lekat-lekat; berharap dengan melakukan itu akan membuatnya tak terjamah dari tangan Tequilla Sirius maupun orang lain yang sama tak tahu dirinya. Lalu sebuah celetukan sembarangan tentang monyet terdengar—
"Oh, that was precious..." —ditanggapi secara mengagumkan oleh Kristobal Morcerf yang termasyhur.
"Otak udang," desisnya diiringi satu suapan cheese cake. Tak habis pikir—mengatai manusia lain 'monyet'; dia kira dia tidak satu spesies dengan siapapun-yang-berulah-di-sebrang-sana? Dia manusia, orang itu manusia, Kristobal Morcerf juga manusia? Dan ketika satu manusia disebut 'monyet', tidakkah yang lainnya sama saja?
Apalagi yang menganggap mengatai manusia sebagai monyet adalah atraksi mengagumkan. Ck. (Menyuap cheese cake lagi)