Sabtu, 26 September 2009 09.14
Pesta Awal Tahun Ajaran / I
Meja Slytherin"Kau harus kembali ke Hogwarts, Charlotte. Tak ada pilihan!"
"Aku tidak mau, mama."
"Kau harus—"
"—kalian membuangku?"
"Demi... keselamatanmu. Tidakkah kau mengerti?"
—aku tidak mauMama, aku tidak mau. Bolehkah kembali ke rumah?Bahkan ia kini terlihat menjijikkan bagi dirinya sendiri—merengek-rengek seperti anak kecil kehabisan popok yang dipermainkan oleh anak brengsek lain yang lebih tua. Ditinggalkan sendirian padahal umurnya bahkan masih belum melebihi bayi yang baru bisa merangkak—Charlotte hanya seorang gadis dua belas tahun yang bahkan belum bisa
berdiri sendiri. Gadis itu kini rapuh, jadi tipis secara mendadak dan berlubang oleh keadaan. Hanya karena kehidupannya secara tiba-tiba berubah busuk. Ditambah segala kepura-puraannya tentang hidupnya yang sempurna dan tanpa masalah, gadis itu semakin terkikis.
Mungkin sebentar lagi Charlotte akan mati karena habis. Tapi sepertinya itu lebih baik. Di alam sana tak akan ada masalah yang menggelayutinya sampai bungkuk dan terjatuh.
...
Aula Besar sudah sangat ramai ketika Charlotte tiba dan mendudukkan dirinya dengan enggan di kursi panjang Meja Slytherin. Profesor McGonagall seperti biasa datang dengan ekor segerombolan murid yang akan diseleksi—binar kekaguman dan ketakutan terlihat jelas dari mata mereka yang menyisir. Beberapa dari anak itu menggigil kedinginan, jubah mereka basah dan berat oleh air. Hanya satu lirikan singkat yang Charlotte layangkan ke arah bocah-bocah itu, sebelum manik coklat terangnya kembali mengarah ke beberapa orang yang sudah duduk terlebih dulu tanpa minat.
Lagi-lagi tak ada yang menarik dan bisa dilakukannya.
Pun ketika seleksi akhirnya berlangsung selama beberapa waktu, yang Charlotte lakukan hanya sedikit menunduk memandang meja tanpa fokus. Otaknya yang tak diberi bahan pikiran melayang entah ke mana—rumahnya di Waterloo, liburannya di Jury's Inn, Sebastian dan banyak hal yang lewat sekilas saja. Dan telinganya berdengung, tak mendengar dengan jelas apa-apa saja yang berbunyi di sekitar, kecuali tepukan massal ketika pidato Dumbledore akhirnya selesai—ia bagai boneka hidup tanpa nyawa dan rasa.
Minatnya sudah mati seiring kebenciannya yang mendalam akan diri sendiri, ketika gadis itu akhirnya harus mengingkari sumpah mati yang telah ia buat dengan kembali ke tempat ini. Dalam hati semua waktu yang ia lewati begitu menyiksa—tapi terlihat melamun adalah batas kerapuhan yang bisa ia tunjukkan di depan orang lain.
Abbastanza.
Satu helaan nafas, lalu tangannya menarik sepiring steik dengan bosan.
Astaga, ia benar-benar ingin pulang.