Sabtu, 26 September 2009 09.07
No. 13, Marine Crescent, Waterloo, Liverpool, Merseyside, UK / III
"Aku minta penjelasan," satu suara memecah udara, menarik tiga pasang mata ke satu titik secara bersamaan. Bagai ada jangkar yang menarik mereka menuju satu fokus dalam satu hitungan; mata mereka nyalang karena tegang, menatap sepasang lagi yang menajam dalam ketenangan. Charlotte akhirnya menyandarkan punggungnya dalam diam, mengedarkan pandangan meminta penjelasan sebelum menatap lurus ke perapian. Harus ada yang bicara di tempat ini, dan itu bukan Charlotte dengan sejuta pertanyaan tak-terjawab-nya. Ia resipient, yang seharusnya menerima apa yang memang harus ia terima.
Kini tinggal menunggu.
Satu detik, otot-otot nyalang itu mulai mengendur untuk kemudian mengerjap beberapa kali. Ibunya, Gabriele, dan Guiseppe sedikit lebih tenang dari beberapa detik lalu. Entah mereka akhirnya menyerah atau sudah bisu, Charlotte tidak peduli. Derak api mungkin telah menghipnotisnya—pandangannya bahkan tak beranjak.
Satu... dua... tiga... ia menghitung dalam hati entah sampai angka berapa. Mungkin seribu? Atau sejuta?
Dua puluh. Tak ada yang bisa mengusirnya dari sini sebelum otaknya terisi informasi. Charlotte tidak bodoh.
Dua puluh tiga. Ayo?
"Kau harus pergi, Charlotte." Gabriele memulai kata.
Apa?
"Kau harus pergi," lanjutnya lebih dalam, membuat Charlotte refleks menoleh dengan mata menyipit. Tak percaya—apa maksudnya ini? Pengusiran? Pembuangan? Setelah ayahnya mati dan semuanya Gabriele ambil kini ia bukan siapa-siapa? Charlotte mengambil nafas dan menghembuskannya kuat-kuat—dahinya berkerut hebat. Ditatapnya Ibu dan Guiseppe bergantian meminta penjelasan. Tapi bahkan mereka memalingkan wajahnya ke arah perapian.
Apa artinya ini?
"Di sini tak lagi aman, Bontade girl. Kau tak bisa terlibat," Gabriele menjelaskan masih dengan hati-hati. Bersit harapan Charlotte akan menerima dan segera angkat kaki terlihat jelas dari manik matanya yang kehitaman. Tapi Charlotte tak bisa begitu kan? Ia sudah berjanji... gadis itu tak akan lagi—
—mendadak saja bayangan tentang Hogwarts dan segala isinya membuat kepala Charlotte pening. Tentang masalah ini, tentang segala yang tiba-tiba menimpanya—
"Aku tidak mau," ujarnya menahan geram, memalingkan wajah dari Gabriele ke sudut ruangan. Tak mau melihat—kenapa? Toh semua orang memalingkan wajah di tempat ini kan? Begitu pula ia, yang dengan jelas dirugikan dan terbuang—memalingkan wajah hanya satu dari sekian cara untuk membuat diri tampak lebih tegar di hadapan banyak orang. Meski di depan orang-orang ini Charlotte tak pernah berpura-pura, tapi keadaan ini lain. Dan mengalah dengan orang-orang macam mereka merupakan awal kehancuran.
Pendiriannya keras, dan tak mudah baginya untuk dibujuk.
"Tapi kau harus, Charlotte. Aku tak ingin kau mati!," lagi-lagi Gabriele yang mengoceh.
"Kenapa aku harus mati?"