Sabtu, 26 September 2009 09.13
Jury's Inn, Chelsea / III
Tak ada yang tahu, siapapun yang mengenalnya, ke mana dan untuk apa Charlotte pergi selama setahun ke belakang. Kecuali tiga orang yang menempati rumahnya selama ini, siapa yang tahu bahwa Charlotte pergi ke sekolah aneh untuk belajar sihir? Berita berhembus seiring angin, terlalu banyak spekulasi yang dilontarkan sebagai celetukan ringan tentang ke mana gadis itu pergi—namun tak ada satupun yang mendekati. Hal bagus. Mengingat betapa merindingnya seluruh bulu kuduknya setiap kali membayangkan semua orang menjauhinya karena menyangka Charlotte nenek sihir.
"Aku—ke tempat yang tak akan pernah kau bayangkan sebelumnya," ujarnya santai, kepala gadis itu sedikit menunduk.
"Benarkah?" Sebastian tersenyum kecut, masih menghisap cerutunya dengan tak peduli. Ada jeda sesaat, seorang bartender dengan seragam biasa menghampiri lalu menyodorkan sebotol kecil berisi cairan bening entah-apa pada Sebastian. Charlotte mengernyit, menatap lekat-lekat Sebastian yang kemudian mematikan cerutunya demi meminum sesloki kecil cairan di botol itu. Apapun itu, yang pasti kadar alkoholnya sangat tinggi. Orang-orang seperti Sebastian tak mungkin minum jus.
"Apa itu?" Charlotte melirik Cocktailnya sekilas—membandingkan dan jelas beda.
"Ini Tequila. Kau anak kecil tak boleh minum," balas Sebastian entah mengapa membuat Charlotte tersenyum masam. Tequila—
Sirius? Orang brengsek tak tahu diri yang seenaknya mengklaim kepemilikan Charlotte secara sepihak. Padahal ia bukan barang—sebagai manusia, bahkan harganya tak terhingga. Bahkan siapa itu Tequilla Sirius? Charlotte
sama sekali tidak mengenalnya. Perlu dimiringkan, dipertebal dan digaris bawahi. Bahkan kalau bisa dicetak besar-besar.
"Ini," lamunan Charlotte terbuyar ketika sebatang ramping disodorkan ke depan wajahnya. Sebatang Davidoff—ia mengalihkan tatapan memandang Sebastian, yang hanya mengangguk tanpa menarik ulurannya pada Charlotte. Gadis itu ragu sesaat, namun kemudian mengambil Davidoff yang disodorkan Sebastian tanpa banyak bicara.
"Kau tahu aku masih dua belas tahun," jemarinya melinting cerutu di tangannya sebentar.
"Aku menghisap barang itu umur sembilan," ujar Sebastian sambil menyodorkan sebuah pemantik.
Charlotte terdiam sebentar. Menatap Davidoff di tangannya sedikit ragu, kemudian tersenyum kecut, ia menyelipkan benda itu di bibirnya. "Kau brengsek, Sebast,"
Dan sebastian tergelak keras.