Sabtu, 26 September 2009 09.09
Jury's Inn, Chelsea / II
The Bar. 9 PM.Ini hakikat.
Entitas bernama masalah itu selalu menyusup diam-diam dan berhembus tanpa tersadari. Menempel dan menjangkiti manusia secara perlahan, menggerogoti mereka yang tak kuat iman sampai ringkih bahkan habis. Mengacaukan otak mereka sedemikian rupa dan membuat mereka buta akan segala. Hinggap pada siapa saja dan mengharuskan banyak cara untuk mengusirnya dari kehidupan. Banyak cara, yang terkadang mendefinisikan dengan jelas orang seperti apa kau sebenarnya, di mana dan bagaimana kau menjalani hidup, serta dengan siapa kau bergaul sehingga membentukmu seperti sekarang kau berpijak.
Masalah tak mengenal umur dan situasi—terlebih masa lalu. Siapa yang peduli kalau kau bahkan keturunan nabi?
Charlotte Demelza Ryan, dua belas tahun, dengan setumpuk masalahnya yang memberatkan sedang duduk di satu dari sekian kursi bar di Jury's Inn. Ini memang sudah malam; orang-orang bilang untuk anak seumurannya ini saat yang tepat untuk bergelung di balik selimut setelah minum susu dan cuci kaki, juga sebuah kecupan di dahi dari ibumu yang sangat-sangat kau sayangi. Dia memang masih dua belas tahun—tapi bahkan kini ia terusir dari rumahnya sendiri dan tak ada yang membuatkannya susu apalagi mengecup dahinya sambil menaikkan selimut.
Dia tak sedang berbaring di kasur, tapi di tengah gelapnya malam yang terselingi lampu lincah menyilaukan—ujung jemarinya yang bosan memutari bibir gelas di depannya. Gelas dengan ujung bawah semakin mengerucut, dengan penyangga ramping dan kaki lebar berisi cairan kebiruan yang tinggal tiga per empat.
Cocktail—ini biasa meski kepalanya masih sering terasa pening setiap satu tegukan melewati kerongkongan. Ini baru habis satu per empat, belum ada efek yang terjadi namun Charlotte sama sekali tak berniat melanjutkan sampai habis. Otaknya penuh, kau tahu? Semua hal itu memenuhi benaknya sampai sesak.
Sampai bahkan, ia tak sadar pakaian apa yang dikenakannya malam ini—gaun malam biasa berwarna merah cerah. Sangat kontras dengan suasana hatinya yang sedang muram.
"Kau tak berubah, Charlotte," suara seorang laki-laki di sampingnya terdengar samar di tengah dentum musik yang memekakkan—namun mau tak mau membuatnya refleks menoleh.
Sebastian Joseph—kawan lama sejak mereka bertemu pertama kali di toko buku, lebih tua sekitar tiga atau empat tahun. Dan untungnya berhasil Charlotte seret untuk menemaninya di tempat ini, setelah satu tahun lebih mereka tak bertatap muka.
Satu sudut bibir Charlotte tersungging sedikit, dahinya sedikit mengernyit begitu asap keputihan mengepul dari lubang bibir yang dibentuk Sebastian. Rokok—cerutu mungkin—dengan label Davidoff tercetak jelas di bungkusnya yang putih bersih. "Kenapa aku harus berubah? Apa yang kau harapkan berubah dariku, Sebast. Aku hanya pergi satu tahun," jawabnya sedikit bosan.
Sebastian hanya mengedikkan bahu sama bosannya, kembali menyesap cerutu yang terkepit di antara jari.
"Entahlah. Aku bahkan tak tahu pergi ke mana. Siapa tahu kau berkelana menjadi biksu. Akan banyak yang berubah meski satu tahun," lanjut pemuda itu asal, mau tak mau membuat bibir Charlotte mencebik samar.