Sabtu, 26 September 2009 09.15
Pesta Awal Tahun Ajaran / IV
Meja SlytherinOrang-orang berbincang bahwa hidup ini opera, yang penuh akan sandiwara dan alunan musik sumbang di setiap gerakannya. Dengan satu pemeran utama yang ditunjang beberapa pemain pembantu, pertunjukan berlangsung selama beberapa waktu sebelum akhirnya si pemeran utama mati; berganti layar menjadi pertunjukan lain dengan konflik yang benar-benar berbeda. Seperti Charlotte, dan kehidupannya; ia pikir ia pemain paling mahir zaman ini. Memainkan perannya dengan baik sesuai naskah yang bergulir dalam benak—melihat, merasa, memainkan, berpura-pura. Setidaknya sampai detik ini, di mana settingnya adalah Aula Besar Hogwarts, seorang Charlotte Demelza Ryan telah berhasil bertingkah sepantasnya. Tanpa menimbulkan keributan apapun, gadis itu berhasil menghabiskan sepotong
cheese cake dengan sempurna. Karena kau tahu, opera miliknya tak lebih dari drama menjemukan tentang kesempurnaan, yang bahkan terlalu menjemukan bagi si pemeran utama.
Tapi apa yang bisa ia lakukan?
Plot hidupnya sudah seperti ini, riak bahkan ombak beberapa waktu lalu hanya selingan tak berarti dalam hidupnya.
Charlotte mengulum mulut sekali, mengambil selembar sapu tangan sewarna salem dari saku jubahnya. Sementara satu tangannya mengusap beberapa titik di dekat bibirnya dengan hati-hati, satu yang lain bergerak meraih sepiala jus labu untuk kemudian meneguknya sedikit. Sekedar membersihkan remahan yang tersisa di mulut dan tenggorokan. Mungkin setelah ini ia akan bangkit dan beranjak. Lalu kembali ke asrama dan tidur—benar-benar kegiatan biasa yang menjemukan. Tapi itulah hidupnya, dan tak ada yang bisa Charlotte lakukan selain menjalaninya. Plot,
remember?Gadis itu berdeham kecil sekali, tak mau peduli ataupun ikut campur pada apapun yang terjadi antara orang-orang yang berdiri maupun duduk di balik empat meja asrama di tempat ini. Tak mau mencari masalah; satu hal yang bisa membuatnya menjadi orang lain yang lebih 'berbahaya'. Latar belakang kehidupannya membuat semua itu menjadi mungkin. Ia bangkit, menyusupkan sapu tangannya ke dalam saku sebelum meluruskan lipit-lipit kusut di jubah dan kemejanya. Memutar tubuhnya sedikit—
...
—gadis itu terdiam sesaat begitu tubuhnya menghadap Kristobal Morcerf. Satu alisnya naik sedikit, sebelum kemudian ia berjengit kecil, lalu menepuk pundak Morcerf pelan.
"Morcerf," (membungkuk sedikit, menyelipkan rambutnya yang jatuh ke belakang telinga) "Ada semut di telingamu.
Permisi," ia melanjutkan, sedikit lebih pelan. Semetara ibu jari dan telunjuk kanannya mengambil semut yang berjalan lincah dengan hati-hati. Lalu membuangnya, gadis itu kembali berdiri dan tersenyum tipis. "Maaf atas kelancanganku," Charlotte menganggukkan kepalanya kecil.