Sabtu, 26 September 2009 09.12
Through the Night
Hidup mereka berubah, manusia-manusia itu. Tak pernah konstan melaju di satu jalur yang menggaris lurus. Pasti ada simpangan, belokan, bahkan jalan bercabang yang mengiringi mereka dari rahim hingga ke tanah. Tak akan pernah mulus, ada banyak perubahan-perubahan berarti yang bahkan tak tersadari manusia itu sendiri. Alami—dan sulit dijelaskan. Ini rahasia Tuhan dan alurnya selalu kompleks.
Ini sudah hampir tengah malam, namun gadis itu—Charlotte—bahkan belum berada di pinggir jalan London untuk kembali ke penginapannya di Jury's Inn. Sebuah kursi berkaki empat yang sudah rapuh menyangga tubuhnya sejak tadi; sementara si majikan duduk bertumpu dalam diam, jemarinya yang bosan mengetuk-ngetuk gelas kosong di genggaman dengan konstan. Butterbeer di dalamnya mungkin sudah habis, namun ada hal tak terjelaskan yang menarik pandangan Charlotte untuk terus menatap dasar gelas yang masih menyisakan titik-titik air. Meski pandangannya kosong—mungkin Charlotte merasa senasib sepenanggungan dengan gelas di hadapannya?
Charlotte kosong—apapun yang ada di dirinya, dengan sedikit asa dan amarah yang tersisa. Terlalu lelah bahkan untuk berjalan, apalagi mengekspresikan semuanya pada orang yang bahkan tak bisa ia sentuh.
Entah sampai kapan ia akan menghabiskan malamnya di sini, karena jelas sangat-sangat tak mungkin untuk menginap. Charlotte tak memesan tempat, dan ia dengan jelas tahu bagaimana timpangnya kualitas ranjang di sini dan Jury's Inn. Padahal tak ada yang menarik di sini, kebanyakan yang masih tersisa hanya beberapa penyihir mengerikan yang bicaranya berbisik—
“Mengapa belum tidur?”—kecuali mungkin satu, dua, lalu membentuk segerombolan anak yang tak jauh dari tempatnya menyendiri; membicarakan entah-apa sebagai makan malam. Satu dari mereka dikenalnya, si Nona Muda berambut perak dari Slytherin—ya, satu asrama dengannya. Yang ditemuinya di Leaky Cauldron lebih dari setahun lalu, dan yang sapu tangan birunya masih ada di dasar kopernya di Jury's Inn. Apa yang mereka bicarakan entah mengapa menarik perhatian, ketika satu orang melontar 'kuburan' dan yang lain menanggapi.
Tidur di kuburan, hm? Astaga, pembicaraan mereka
menarik sekali untuk ukuran anak sebelas-dua belas tahun.
Anak-anak bodoh.
Kedua sudut bibirnya tertarik masam. Apapun yang mereka bicarakan mau tak mau membuatnya penasaran. Ketukan ujung jarinya di gelas kosong berubah tempo—menjadi lambat-lambat namun lugas yang menggetarkan seluruh bagiannya sedikit. Ada harapan akan 'seseorang yang tidur di kuburan' dari bibir seorang gadis. Sungguh naif mengingat gadis itu tak tahu jika
mungkin saja dia yang akan tidur di kuburan—Juutilainen mati di umur sebelas. Jadi kenapa gadis itu tidak?
Christabel menyuruh mereka semua tidur—hei, hei kenapa? Dia takut? Bukankah pembicaraan ini
menyenangkan? Charlotte bosan, kalau boleh jujur.
"Kenapa begitu cepat, Christabel?" nadanya manis, dan senyumnya melengkung cantik begitu tubuhnya berputar menatap Christabel Vittore.