Sabtu, 26 September 2009 09.06
Jury's Inn, Chelsea / I
Room 1379Tak pernah Charlotte bayangkan sebelumnya, demi dua belas tahun hidup yang pernah ia jalani, bahwa detik ini ia akan berada di tempat lain selain rumahnya di pinggir pantai di Waterloo. Di atas sebuah kasur empuk porsi sendiri, dengan punggung bersandar pada dinding belakang ranjang dan kaki hampir mendominasi seluruh bagian kasur. Tubuhnya terhalang bentangan koran, kalau kau tak melihatnya; yang disangga dengan apik oleh jemarinya yang menggenggam tepian. Bola matanya yang coklat terang tak henti bergulir dari satu kalimat ke kalimat lain tanpa terlewat. Memindai berulang-ulang
headline yang tercetak besar-besar tentang kematian keluarga Juutilainen, eksklusif dengan beberapa foto snapshoot gelimpangan mayat berlumuran darah—sebagian kepala mereka bahkan sudah hampir hancur dan wajahnya tak teridentifikasi.
...
Mendadak Charlotte mual. Memikirkan mungkin saja foto yang dilihatnya merupakan mayat Karl sukses membuatnya melipat koran itu dan meletakkannya di
buffet samping tempat tidur—yang pasti tak akan disentuhnya dalam waktu dekat ini sampai ia bisa mengatasi rasa mualnya—sebelum menghela nafas dalam dengan kepala pening yang berdenyut hebat. Keadaan mengerikan secara mendadak, kalau orang-orang di dunia sihir bilang ini masa kejayaan, Charlotte dan dunianya mungkin berbeda. Perang Mafia kedua memang sudah berlalu dua tahun ke belakang, tapi ternyata lintah-lintah penghisap darah itu sama liciknya dengan setan manapun yang menggoda manusia di muka bumi. Keadaan mendadak tidak menyenangkan. Setelah ayahnya mati, gadis itu tentu tak ingin kehilangan siapapun yang dikenalnya di muka bumi ini.
Ini hari ketiga semenjak Charlotte
diusir pergi dari rumahnya sendiri dan memutuskan untuk memesan satu kamar di Jury's Inn, dan tak ada yang dilakukannya selama tiga kali dua puluh empat jam kecuali makan dan tidur dan berjalan-jalan tak jauh dari hotel. Siklusnya selalu sama dan monoton, hingga bahkan ia selalu terbangun di waktu yang sama dan tanpa sadar sudah berada di suatu tempat yang hari-hari sebelumnya ia selalu kunjungi di waktu tertentu. Rangkaian ini membuatnya bosan sampai hampir mati kekeringan, mendoktrin syaraf-syarafnya untuk melakukan hal-hal standar dengan biasa dan Charlotte akan gila sebelum mati. Ini mengerikan—andai saja ia bisa kabur ke dunia yang diinginkannya; sayangnya semua tak lagi berjalan sesuai keinginan sang tuan putri, ia kini telah terbuang.
Selamat tinggal, Charlotte. Duniamu tak pantas kau jejak lagi. Silahkan tepuk tangan. Demi sumpahnya untuk tak mencecap lagi hal bernama 'sihir' sedikit pun, keadaan telah bermain api dengan memaksanya menjilat ludah sendiri.
Charlotte tersenyum miris, mengedarkan pandangan ke sekeliling dinding bata bersaput cat yang membatasinya dengan dunia luar. Menyadari ketika melihat jam bahwa kini sudah waktunya ia makan, gadis itu bergerak bangun dengan sedikit malas. Sudah siklusnya, seperti yang ia telah katakan, untuk memesan beberapa menu daging dan sayuran untuk dimakan sendiri sebelum mengambil mantel dan menghabiskan waktu di pinggir-pinggir jalan London sampai matahari tak lagi terlihat. Sendiri, sekedar berjalan-jalan melenyapkan kepenatan daripada tubuhnya membusuk di kamar hotel.
Satu helaan nafas tercipta lagi, dan dalam satu gerakan luwes, tubuh gadis itu sudah ada di balik pintu kamar nomor 1379.