Sabtu, 26 September 2009 09.11
Crumbling
Ini aneh—mengingat ia sudah bersumpah mati-matian bahwa tak akan ada lagi hari-hari selanjutnya di dunia sihir, menjejakkan kaki di Leaky Cauldron untuk kelima kalinya dalam seminggu benar-benar di luar akal sehat. Pakaiannya lengkap hari ini, sehelai baju tipis dan rok putih selutut yang tersamarkan oleh mantel bepergian hitam yang selalu melekat di tubuhnya setiap beranjak dari hotel. Juga sebuah tas tangan kecil yang manis berisi uang dan
pager yang selalu dibawanya ke manapun selain Hogwarts. Yang busuknya tak bisa memfungsikan barang elektronik barang sedikit pun.
Sebentar lagi tahun ajaran baru akan dimulai, dan bahkan sampai saat ini yang dilakukannya hanya berjalan-jalan di Diagon Alley tanpa membeli satu barang pun untuk keperluan sekolahnya. Berharap bertemu siapapun yang mengenalnya dan berbincang melepas penat, namun tetap saja, sampai saat ini gadis itu hanya mengeluarkan ucap ketika memesan skop-skop eskrim di Florean Fortescue's. Keadaan belum berubah, ia masih menjadi makhluk anti sosial yang tak terlihat oleh pandangan manusia. Tak terdeteksi, tak terjamah, dan bahkan tak penting untuk dirasa. Tak ada yang dikenalnya bahkan di pusat perbelanjaan penyihir di London, dan entah sejak kapan Charlotte mulai terbiasa.
Apapun yang dilakukannya tak akan dipedulikan orang—jadi tak salah kan kalau ia, di beberapa waktu, melakukan beberapa hal seenaknya?
BRUKK!Bukan salahnya kalau hanya senyum tipis dan tatapan tajam yang ia keluarkan ketika setumpuk buku berpindah tempat dari pangkuan seorang gadis kecil ke lantai, membentuk serangkaian debam pemancing perhatian yang membuat banyak mata menoleh ke arahnya. Gadis itu terbungkuk-bungkuk memunguti bukunya, menatap Charlotte sedikit ketakutan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hal tak penting yang tak perlu diurusi. Charlotte menghela nafas seolah bosan, beranjak dari tempat kejadian perkara seolah tak terjadi apa-apa.
Berhenti di satu titik yang menjadi poros di bar kumuh itu, ia menyadari bahwa, setelah mengedarkan pandangannya dengan cermat dan teliti, tak ada lagi tempat yang tersisa baginya sekedar untuk duduk. Dan menyesap sedikit Butterbeer, oke—Charlotte sudah ingin sekali mencobanya ngomong-ngomong, meski minuman itu levelnya jauh di bawah dan belum tentu steril dari kuman—tak ada lagi yang tersisa.
...
Ada satu meja dan beberapa pemuda, satu dikenalnya, beberapa sepertinya, dan mungkin beberapa kursi mengelilingi yang tak tertempati. Satu sudut mata Charlotte menyipit, seiring otaknya yang bekerja mempertimbangkan banyak hal. Untuk bergabung tentu saja sangat-sangat tak mungkin, dan ini berarti—
"Aku mau kursi,
may i?" tanyanya begitu ia berada sangat dekat, satu tangannya mengetuk-ngetuk sebuah kursi kosong dengan dua jemari. Menunggu, berharap mereka tak terlalu pelit untuk meminjamkan kursi yang bahkan bukan milik mereka.
Hanya demi kesopanan.
—meminta kursi dan menyeretnya ke meja bartender.
Sfolgorante.