Sabtu, 26 September 2009 09.04
No. 13, Marine Crescent, Waterloo, Liverpool, Merseyside, UK / II
Tuhan memberkati—doanya akhirnya dikabulkan, hm?
Satu sudut bibir gadis berambut coklat itu tertarik puas, ketika akhirnya kedua kakinya yang mungil menjejak tanah lembab namun berdebu di pinggir pantai di Waterloo. Disusul kerling matanya yang berbinar, ketika, akhirnya ia menangkap gagah bangunan yang sudah ia nanti sejak lama di depannya. Pemandangan itu bukan lagi kastil besar yang jika diurai tak lebih dari batu-batu hitam dengan perekat, tapi rangkaian batu-bata oranye yang di dalamnya kehangatan alami tercipta. Ini bukan Sekolah Sihir Hogwarts, tapi bangunan satu atap tanpa menara yang entah sejak kapan dirindukannya begitu dalam. Dan ini bukan tempat orang-orang yang membuatnya muak berada, tapi tempat orang-orang yang dicintai dan mencintainya bernaung.
Ini berbeda, dengan jelas dapat Charlotte rasakan hingga ke pori-porinya yang terdalam.
Ia akhirnya pulang ke rumahnya yang nyaman dan hangat di Liverpool, dengan sumpah tak akan kembali lagi ke tempat bernama Hogwarts. Karena tak ada lagi yang dikejarnya dan dikenalnya di sana—Karl Juutilainen bahkan sudah mati karena kejamnya bisnis keluarga beberapa minggu lalu—dan tak ada alasan baginya untuk kembali. Charlotte cinta keluarganya, Guiseppe, rumahnya, dan memikirkan semua itu entah mengapa membuat Hogwarts terdengar begitu memuakkan dengan segala kehidupan sekolah itu yang menyiksa. Gadis itu sudah bersumpah, dan seorang Bontade tak akan mengingkari janjinya apapun yang terjadi meski itu menghantarnya ke kematian. Pantangan nomor sekian yang kedudukannya sama penting dengan yang lain—tak ada prioritas.
...
Angin berhembus sekali, namun gadis itu belum sedikit pun beranjak dari depan pagar No. 13 Marine Crescent di Waterloo. Mengatupkan sejenak kedua kelopak matanya yang kelelahan, Charlotte lalu menghirup udara yang berbau air laut dalam. Satu decit memekakkan telinga terdengar jelas begitu pagar kayu dibuka, lalu langkah demi langkah membawa gadis itu pulang ke rumahnya. Tempat yang dirindukannya, yang akan menjadi tempatnya beristirahat selama hari-hari dan tahun-tahun ke depannya.
Di sini Charlotte memiliki privasi juga ketenangan—dan semoga masih ada; ia bahkan berharap lebih ketika jemarinya mengetuk pintu perlahan.