Sabtu, 26 September 2009 09.06
No. 13, Marine Crescent, Waterloo, Liverpool, Merseyside, UK / I
Semuanya benar-benar tak berubah di sini. Ruangan ini pun masih sama, sebuah persegi berukuran 6 x 5 meter dengan tiga jendela tinggi menghadap halaman, dan satu perapian di tengah salah satu dinding. Tak ada yang berubah dari sebelas tahun lalu, kecuali perbaikan-perbaikan kecil yang tak berarti. Tirai tebal merah tua dipadu coklat yang menghalangi sinar matahari bahkan sudah berdebu sangat banyak, dan karpet coklat yang mengalasi kaki-kaki kursi, meja, dan manusia di ruangan ini sudah hampir dimakan rayap. Tak ada yang berubah, seperti biasa, di pukul sembilan tepat lonceng jam besar di sudut sebelah kiri berdentang nyaring yang gemanya ke seluruh ruangan. Lalu kaki-kaki hidup mulai menyusul.
Pertama sepasang jenjang milik seorang wanita, lalu dua pasang lagi berbalut celana kain yang telapaknya berbalut pantofel bersih untuk di dalam, lalu yang terakhir sepasang milik seorang gadis kecil. Ada empat yang kemudian duduk di kursi antik berwarna senada dengan tirai dan kertas dinding, yang datangnya langsung dari Italia dan berumur hampir sama dengan si gadis kecil yang terakhir datang. Debu-debu menguar terbias cahaya begitu mereka mendudukkan tubuh mereka dengan sedikit kasar yang dipercantik, lalu keheningan menimpali beberapa lama. Keadaan yang biasa, mungkin, kecuali ada beberapa yang berubah dari waktu-waktu lalu yang telah terjadi.
Perubahan kecil yang mengungkapkan segalanya.
Tak ada koran dan cangkir kopi di atas meja, dan garis-garis wajah semua dari mereka tampak tegang. Sesekali batuk kecil terdengar, namun tak ada yang terjadi kemudian.
Mereka itu Anna, Guiseppe, Gabriele dan Charlotte—tiga anggota keluarga Bontade dan satu pelayan setia. Sedang berkumpul seperti biasa sebelum Charlotte masuk Hogwarts, di jam sembilan pagi hari Rabu. Hari ini gadis itu pulang, dan rutinitas kembali dijalankan. Namun ada yang lain, yang berubah, yang jelas-jelas ia sadari dengan mata telinga dan hati. Apa sebenarnya yang terjadi? Kita melihat dari sudut pandang Charlotte—si gadis paling kecil, yang mungkin saja pangkal dari semua keanehan yang terjadi di tempat ini. Gadis yang memerlukan semua jawaban tentang apa yang sejujurnya ingin orang-orang itu sampaikan.
Semua ini aneh, dan ia dengan waras sadar akan hal itu. Tak ada yang bisa ditebaknya meski sekeras apapun usahanya menerobos benak masing-masing dari manusia lain di ruangan ini. Ada yang berubah dari rutinitas mereka yang biasanya menyenangkan, dan itu jelas mengganjal hati. Semua ini tentang dirinya, ia sadar betul. Tapi apa? Tak ada satupun dari mereka yang bicara. Bahkan ibunya, Guiseppe, dan Gabriele seolah tak mau memandang lurus ke arah gadis itu. Pandangan mereka kosong, meski memandang ke titik di mana Charlotte duduk. Namun sorot mereka mengisyaratkan bahwa mereka sama sekali tak menganggap dirinya ada di tempat itu.
Apa-apaan ini? Charlotte mengedarkan pandangannya nyalang, sementara kedua telapak tangannya bersatu dengan gelisah di atas pangkuan. Ketenangannya seolah lenyap, bahkan kini ujung sepatunya mengetuk-ngetuk karpet dengan tempo cepat. Punggungnya tak menempel kursi dan tak ada yang bisa dilakukannya selain menatap orang-orang di tempat ini satu persatu. Ibunya ingin bicara, ia dengan jelas mendengar itu dari bibir Guiseppe ketika sedang nyamannya merebahkan diri di kasur. Dan sekarang apa? Tak ada yang bicara—dan ini bisa saja tanpa arti atau malah berarti banyak. Seolah dengan kepulangannya yang baru saja semua anggota keluarga ini berada di ambang masalah.
Apa—tak adakah yang bisa menjelaskan?
Charlotte berdeham sekali, "Aku minta penjelasan," tukasnya dalam, sorot matanya yang mendadak tajam tak mengarah pada seorang pun.