Sabtu, 26 September 2009 09.25
Fortune Teller Genius / II
Orang-orang bersabda bahwa dunia sudah gila.
Memang.
Dunia gila orang-orang gila dunia sihir gila Hogwarts gila Albus Dumbledore gila dan populasi orang-orang waras sudah tersisih dari kehidupan. Albert Einstein bahkan sudah gila—
katanya. Charlotte Demelza Ryan gila dan Bradley Crook ikut-ikutan gila. Mereka gila, apalagi kegiatan yang sedang dan akan mereka laksanakan kemudian. Mereka berputar-putar di tengah ketidakwarasan, maka jangan salahkan jika di zaman kini, hal yang tabu menjadi lumrah dan yang lumrah makin tersisih. Coba kira-kira; dulu, mana ada laki-laki memakai make up? Atau cadar? Mereka berperang dengan pedang dan tameng baja, tuan, dan muka mereka merah karena terkena cipratan darah—bukan
blush on, misalnya.
Tapi kini, lihat di jalan-jalan sekitar Milan atau Palermo, di gang-gang kecilnya, ada pintu-pintu tertutup yang jika kau buka, paras-paras cantik yang kau temui bukan wanita. Dan yang seperti itu kini lumrah, apalagi di kota-kota besar di mana sebagian besar warganya metroseksual, penyimpangan-penyimpangan seperti itu sudah tak lebih berharga dibandingkan uang-uang mereka yang melimpah. Dunia sudah terbalik, tuan, hidup nyaman dan
lurus hanya tinggal impian.
Dan meskipun ini Hogwarts, yang katanya lembaga pendidikan, Charlotte tidak peduli. Kebosanannya yang bergulung-gulung menyebalkan ditambah korban yang sudah siap sedia memuluskan jalannya untuk melakukan ketidakwajaran ini. Lagipula, siapa yang akan melarang? Tak pernah ia lihat di peraturan Hogwarts nomor manapun, larangan untuk mengadakan acara macam begini dan mendandani laki-laki jadi perempuan. Intinya : semua ini sah-sah saja. Benar begitu kan?
"Jangan bilang... buat aku?!"Charlotte nyengir, memperlihatkan deretan giginya yang putih melihat raut tak percaya yang terpancar dari wajah si bocah Bradley Crook, sebelum mengangguk dengan senyum puas. Ingin rasanya terkikik ketika bocah laki-laki di depannya dengan cemberut memakai pakaian aneh yang sudah disiapkannya—lebih warna-warni dari miliknya yang hanya putih polos—tapi karena rasanya tak pantas, yang dilakukannya hanya menatap dengan mata berbinar sambil menggigit bibir menahan geli. Tapi kemudian Charlotte lalu berdiri, berjalan memutar meja dengan kotak yang baru diambilnya dari kardus yang dibawa bocah itu. Kotak cantik dari kuningan dengan ukiran bunga matahari. Sekejap, gadis itu sudah berdiri di depan Bradley dengan tubuh bersandar pada pinggiran meja. Lagi-lagi tersenyum.
"Jangan cemberut begitu dong, Bradly. Kau beruntung tak kusuruh memakai rok," ujarnya lembut—jelas sekali dibuat-buat. Perlahan ia menunduk, membuka tutup kotak di pelukannya kemudian mulai memilah-milah. "Tak akan ada yang tahu itu kau, Bradly. Tenang saja—" lanjutnya, lagi-lagi berjalan mendekati Bradley. Ia menatap lurus mata anak itu, tak berkedip, mendekatkan wajahnya sebelum kedua sudut bibirnya kemudian tertarik. Manis.
"Hei Bradly, kau tahu, kau
cantik," bisiknya lembut, berharap saja bocah ini tak mengelak ketika sapuan pertama mendarat di pipinya yang mulus.
Blush on.
"Selamat datang di Fortune Teller, masuklah dan kami akan membantu," itu, suara perempuan dengan nada rendah.
- Thread ini OPEN, silahkan masuk satu-satu dan mengajukan pertanyaan maksimal lima. Kami akan menjawab seluruhnya *angelicsmile*
- Deskripsikan Charlotte dan Bradley sudah duduk di dua kursi di belakang meja, mereka berdua memakai cadar sehingga tak akan ada yang bisa mengenali.
- Di atas meja hanya ada bola kristal.