Sabtu, 26 September 2009 09.23
Fortune Teller Genius / I
"Halo, Bradly. Sendirian saja?"
...
"Bagaimana kalau kau bermain denganku?"
Satu rayuan dan dua paksaan yang berbanding, ia akhirnya berhasil menyeret seseorang untuk menjalankan misinya di tempat ini. Meski baru pertama kali menemukan dan tak pernah mendengar sebelumnya, tak mengagetkan ada ruangan sebesar ini di salah satu sudut Hogwarts. Bentuknya persegi, sekitar tujuh kali tujuh meter dan memiliki empat sudut siku-siku. Satu pintu jati berpelitur yang berat dan tinggi memisahkan ruangan ini dengan koridor luar, dan sekitar enam atau delapan jendela-jendela dengan kusen dan kaca menampakkan pemandangan halaman juga danau jika kau memepet sedikit lebih ke dalam. Adanya di lantai empat ruangan ini. Tersembunyi di balik lukisan-lukisan besar yang terpaku sampai hampir menyentuh lantai.
Di kiri ada lukisan segerombolan bapak-bapak berkumis yang kepalanya licin, sedang minum kopi mengelilingi meja bundar bertaplak putih; dan di kanan ada lukisan sawah kosong berlatar gunung. Lalu di tengah-tengah, ada bingkai mengurung kanvas yang tidak kosong. Didominasi warna coklat, lukisan itu memiliki bulatan kecil warna perak di sebelah kanan turun sedikit; yang ternyata bisa diraih, lalu diputar, dan dibuka, dan dimasuki, dan—hahaha—ternyata ada sebuah ruangan.
Cantik.
...
Kebetulan yang berujung keberuntungan. Dari iseng-iseng mencari, akhirnya gadis itu punya tempat untuk bersembunyi. Tapi tak akan begitu, karena kini ia akan membagi ruangan ini dengan orang lain—mungkin dengan banyak orang lain. Tergantung seberapa besar minat orang-orang pada masa depan, dan seberapa mudah mereka ditipu.
Oke.Sejauh mata memandang, ruangan ini sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari yang awalnya kosong hanya dengan cat putih. Kini, semua benar-benar bagai disihir. Ada satu meja besar dan nampak berat tepat di tengah, dan di belakangnya ada dua kursi berpuff empuk hijau tua terletak berdampingan. Di depan, tak mau kalah, satu kursi bentuk serupa terletak solo, berhadapan dengan dua kursi yang sudah datang lebih dulu. Sekilas, nampak janggal. Mengingat ruangan ini yang berpetak-petak luasnya hanya diisi oleh tiga kursi dan satu meja, di bawah langit-langitnya yang hampir empat atau mungkin lima meter, ini benar-benar bisa dibilang kosong. Meski ada tujuannya, kau tak boleh dan tak akan pernah tahu.
Di dinding-dindingnya, menempel di ujung-ujung tanpa paku, selendang tipis transparan warna-warni khas yang dipakai gadis-gadis india menggembung-gembung tertiup angin dari (hanya) satu jendela yang terbuka. Dominan warna merah, oranye, kuning—dan sejenisnya—berhasil ia tempel oleh lem sihir super yang didapat dari toko lelucon. Jangan heran dari mana Charlotte bisa dapat. Sebuah kiriman dari teman-sihirnya yang
baik hati tiba beberapa hari lalu dan memenuhi kamarnya dengan rongsok tak berguna asli toko lelucon.
Tapi siapa sangka... siapa sangka satu dari sekian banyak
sampah itu ternyata yang membuatnya rela melakukan semua ini? Bahkan gadis itu telah menyulut beberapa dupa yang diletakkannya di empat sudut ruangan, menguarkan asap tipis yang menyaput udara dan membuat pandangan sedikit kabur. Memenuhi ruangan dengan wangi lembut setiap kali satu hela nafas ditarik—bukan pengorbanan yang mudah, untuk seorang Charlotte Demelza Ryan.
Menggeliat pelan, Charlotte akhirnya menghempaskan diri kelelahan di salah satu kursi di belakang meja. Pakaiannya yang sudah berganti kostum (rok putih yang mengembang, baju lengan panjang warna senada) berdesir halus ketika tubuh mungilnya beradu dengan bantalan. Tangannya melingkar pasrah ke pegangan sementara pandangannya lurus menatap ke depan...
...ke arah sebuah bola di atas dudukan yang di dalamnya berputar asap perak dengan cahaya berpendar. Sekilas mirip bola kristal, sampai kau tahu... ada tombol di belakangnya. Yang bila kau tekan akan mengeluarkan ilusi samar tentang jawaban, properti langka untuk menipu orang. Pura-puranya kau cenayang padahal gerakanmu selicin ular. Ajukan pertanyaan 'ya' atau 'tidak' lalu pencet tombolnya dan sedikit bualan akan membuatmu bersenang-senang.
Charlotte sudah pernah coba. Dan ngomong-ngomong, ada beberapa hal :
1. Dupanya membuat gadis itu ngantuk; dan
2. Di mana si bocah Bradley Crook?
"Madam, apa aku akan jadi perawan tua?" Iseng.
Of course yes!
...
- Ceritanya thread ini thread ramal meramal, setting menjelang siang di akhir pekan, dan bertempat di kelas kosong. Anggap Charlotte baru menemukan kelas kosong dan ternyata telah dimodif dengan cara apapun—jangan dipikirkan.
- Open, but no one repp before Bradley Crook. Jika nanti semua sudah siap, tolong deskrip kalian masuk satu-satu.
- Hanya menerima pertanyaan dengan jawaban 'yes' or 'no'.. Pertanyaan 'siapa yang tahu rahasia letak kutil saya' tidak akan ditanggapi.
- Apa yang akan kami ramalkan di sini, kami ambil murni dari generator bernama senada dengan judul, ditambah sedikit ocehan, maka terima dan simpan baik-baik di otakmu

- Just for fun,
kami sedang menistakan chara deskripsi sudah jelas, yang kurang silahkan tanyakan kami via ym atau pm.