Sabtu, 26 September 2009 09.02
Evening Solace / V
Otak mereka dangkal, orang-orang ini. Dan jalan pikiran mereka sempit dengan kiri kanan sewarna gelap. Pandangan mereka hanya lurus ke depan, apa yang diterima ditelan bulat-bulat dan dicerna hidup-hidup, hingga apa yang mereka telan dan mereka cerna itu meracuni diri mereka sendiri sampai mati. Tidak memikirkan obat ataupun opsi lain—dan inilah yang membuat mereka terlihat tak lebih pintar dari seekor kerbau yang bisa dicocok hidungnya dan digiring ke lubang neraka, bahkan mungkin sampai ke keraknya. Mereka individualis, ciri khas mencolok asrama ular. Dan ketika beberapa dari mereka ditemukan sama-sama di satu tempat yang tak pernah terpikir sebelumnya, lebih banyak dari mereka akan datang dan menggerogoti satu sama lain sampai habis.
Permisi—kau kira permisi macam apa yang Klebold ucapkan?
Berkelahi—dan kau pikir sapaan ringan itu tanpa pengharapan?
Lalu ucapan selamat malam—topeng mereka terpasang dengan apik seolah menyatu dan melebur dengan kulit-kulit mereka yang tebal. Siap menonton kehancuran dan perusakan satu sama lain.
Kecuali si laki-laki pirang dari Hufflepuff, Tequilla Sirius tak jauh beda dari makhluk-makhluk melata yang bertebaran di sekelilingnya detik ini juga. Lintah penyedot darah manusia dalam wujud manusia itu sendiri. Bedanya, makhluk bebal ini lebih
liar dan tak mau diatur. Mau menang sendiri, berkubang dalam lumpur kebodohan menunggu untuk diangkut dan dimandikan oleh sukarelawan yang dia bayar dengan uangnya sendiri. Manja, dan saat tak ada yang mau lagi mempedulikannya bahkan dengan paksaan, Tequilla Sirius akan membusuk karena terlalu lama berkubang.
“Baiklah jika begitu yang Nona inginkan.” kata-kata sopan yang terlalu jelas dibuat-buat membuat air mukanya mendadak masam.
Charlotte memang mudblood, ia akui itu dengan penuh kesadaran dan tanpa kepura-puraan. Tapi itulah istimewanya gadis itu dibanding pureblood manapun bahkan di sudut tersempit kastil Hogwarts ini. Ia mudblood, muggle-born—apapun kiasan yang mereka sebut untuk menjelaskan status darahnya—dan karena ia hebat sebagai keturunan Muggle maka Hogwarts memberinya surat untuk bersekolah di tempat ini. Apa keistimewaanmu jika bahkan kakek moyangmu sudah memiliki darah sihir? Tak ada istimewanya, semua itu sudah mengalir di setiap trombosit darahmu dan bahkan jika kau yang paling pertama menerbangkan bulu di kelas mantra semua tak akan ada bedanya. Sihir sudah menjadi makanan sehari-harimu, lalu semua akan menjadi lumrah.
Dan karena itulah ia tidak pantas diremehkan. Karena status darahnya yang bukan keturunan penyihir—ia membuat perbedaan.
Forza, elettrico. Dominasinya tak dapat dihindarkan, dan jangan pernah menyalahkannya kalau ia tertempa secara tak sengaja menjadi sedikit tinggi hati. Nilai O dan tingkat empat yang diocehkan Tequilla Sirius tak ada kesan istimewa, bahkan alisnya hanya sudi naik sebelah.
Tak ada alasan bagi gadis itu untuk ciut, meski itu sedikit. Tequilla Sirius bukan penghalang solid yang berarti, tak lebih dari seonggok kotoran yang mengganggu dan menunggu untuk dibersihkan. Gadis itu tanpa kepura-puraan dan tak ada secuil pun dari dirinya yan dibuat-buat. Keteguhan dan kekerasan hati itu—sesuatu yang sudah mengakar dalam ke pori-porinya, dan sudah sejak lama menjadi bagian dari alveolinya. Karenanya menyatu dalam darah, dan bercampur dengan udara yang ia hirup. Begitu juga dengan beberapa kata berbunyi kesopanan—Tequilla Sirius dengan kepura-puraannya yang menyindir benar-benar membuat muak.
“Ketahuilah, saya tidak terbiasa dan tidak suka memohon kepada—ah, katakanlah seorang keturunan non seperti anda.”...
“Bawa sini, moron.”Pada akhirnya busuknya muncul ke permukaan kan, si Tequilla Sirius itu? Semua bagian dari pemuda itu tak akan pernah berbau harum. Ucapannya, kelakuannya, wajahnya, hidupnya—semuanya membusuk terurai kebodohan. Buktinya sangat jelas, siapa yang dia sebut moron, hm? Kamar laki-laki Slytherin tak modal cermin ternyata. Membuat geram saja, ckckck.
BRUKK!Satu debam lain lagi-lagi terdengar di koridor, lalu partikel debu yang bagai menguap dan lagi-lagi keheningan. Buku-buku Tequilla Sirius jatuh untuk kedua kali, namun kali ini lebih halus. Bundel kertas bersampul itu masih tertumpuk ketika permukaan bawahnya beradu dengan lantai. Charlotte mendesis, lalu tanpa seucap kata pun kedua kaki mungilnya sukses menjejak di atas tumpukan. Membuat matanya kini hampir sejajar dengan torquoise di hadapan, yang mungkin, sama-sama saling menyorot tajam.
PLAK!Lalu suara selanjutnya yang terdengar adalah ketika dua permukaan kulit beradu setelah melaju dengan kecepatan tinggi. Telapak tangan bertemu pipi—apa yang kau pikirkan? Satu sudut bibir Charlotte tertarik menghina, tangannya yang baru saja melayang tak beranjak, menepuk pelan pipi Tequilla Sirius sebelum mengelusnya lembut yang pura-pura.
"
Moron bukan kata yang diucapkan oleh seorang keturunan baik-baik, tuan." katanya miris, lagi-lagi bibirnya mengulas senyum kecut. Kau tahu, kini Charlotte bukan hanya tersinggung. Ia sakit hati dan marah dan tak bisa membiarkan Tequilla Sirius pulang dengan tenang ke kamar asramanya. Kau kira Charlotte apa, hm? Kutu busuk yang pantas diinjak-injak?
"Dan asal kau tahu," jemarinya yang lentik beralih sedikit mengusap ujung bibir pemuda di hadapannya, "Kalau aku mendengar kata itu lagi dari mulutmu ini, yang ditujukan untuk
ku, aku bersumpah akan membungkamnya dengan tongkat dan perkamen-perkamen nilai O-mu yang kau banggakan itu. Takut?
Maaf," ujarnya lembut, gelegak amarahnya tertahan di dalam.
Lalu ia turun, memandang ke bawah ke tumpukan buku yang baru saja dijejaknya. Ujung kakinya menyenggol tumpukan itu sedikit, lalu buku-bukunya bergetar pelan sebentar. Mendadak, nada bicaranya berubah dingin dengan drastis.
"
Ambil,"