Selasa, 13 Juli 2010 00.54
Because I Said No / I
"...Zeelweger, bawa bukumu sendiri."
Kau tahu, entah apa yang bersemayam dalam otak sebagian besar lelaki-lelaki berambut pirang asrama ular, yang pasti, Charlotte membenci mereka. Sejak tiga tahun lalu ketika pertama kali ia bertemu Tequilla Sirius di koridor hingga saat ini, ketika Arvid Zeelweger berjalan di depannya dengan raut tanpa dosa; sementara Charlotte, di kedua kasus, harus membawakan buku-buku mereka yang beratnya setara dengan dua buah Bludger diam padahal ia sama sekali tak ingin. Di kasus tiga tahun lalu keadaan memang tak mendukung hingga dia tak sadar telah menangkup buku-buku Sirius dalam dekapannya, tapi kelakuan Zeelweger pagi ini benar-benar membuatnya marah...
Perjanjian mereka hanya untuk membangunkan kerbau pirang pemalas itu setiap pagi (untuk menyelamatkan harga dirinya dari diperbudak semalam di depan semua orang)—TAPI KENAPA KINI IA HARUS MEMBAWAKAN BUKU-BUKU ORANG ITU KE KELAS TRANSFIGURASI?! Charlotte bukan budak, Tuan, tenaganya tak gratis. Meski begitu bukan inginnya juga tuk dibayar. Charlotte tak pernah suka melakukan hal yang sama sekali diinginkannya, apalagi ketika itu membuatnya tampak memalukan seperti ini. Dia terbiasa dilayani, bukan melayani.
Jadi tangannya langsung sakit bahkan ketika langkah mereka baru sampai di koridor lantai satu. Buku-buku jarinya yang menekan tekstur kasar bersampul-sampul diktat pelajaran Hogwarts nampak memerah. Charlotte meringis kecil, mendelik kesal ke arah punggung Zeelweger yang sedang berjalan tepat di depannya. Menggeram pelan, ketidaktahumaluan lelaki itu melambungkan kemarahan Charlotte yang sudah berlipat-lipat. Sebagai wanita, egonya tinggi. Dan sebagai seorang gadis lima belas tahun, harga dirinya terinjak-injak mendapati seorang anak seumuran begitu berani menyuruh-nyuruhnya seperti ini.
Meskipun kelihatannya sepele... ia tetap tak suka.
BRUK BRUK BRUK.
Dan jangan salahkan dia ketika buku-buku Zeelweger sudah berserakan di lantai beberapa detik kemudian. Berdecak kesal, melipat kedua tangannya di depan dada, sorot mata cokelat terang gadis itu menyorot punggung Zeelweger tajam, berharap belakang kepala itu berbalik karena dia tak suka diacuhkan. Apalagi ketika moodnya meledak-ledak seperti ini, akumulasi kekesalannya karena harus membangunkan Arvid Zeelweger dengan sangat susah payah, lelaki itu harus minta maaf pada Charlotte.
"Aku bukan pembantu. Kubilang, bawa sendiri buku-bukumu,"
Sekarang.