Selasa, 13 Juli 2010 01.18
SHUT UP!
Aku tak pernah mengerti... mengapa semua orang bisa begitu mudah meninggalkan?...dan ia begitu mudah ditinggalkan?
Coretan-coretan tinta di kertas kekuningan itu kali ini ekspresi perasaannya—tak seperti hari kemarin, atau hari-hari sebelumnya ketika rangkaian garis yang tercipta hanyalah abstrak semata—hari ini dia... curhat. Benar-benar curhat. Bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali Charlotte mengisi buku harian pemberian Sebastian—yang sampulnya beludu dan warnanya marun—tak pernah ia menganggap bahwa bercerita pada sebuah buku adalah hal yang cukup penting. Dulu ia punya Dylan Klebold, lelaki kasar yang meski tak pernah menatapnya dengan baik tapi tak pernah mengeluh ketika ia bercerita macam-macam; dan setelah lelaki itu pergi Charlotte punya Bradley. Berhadapan dengan sesosok makhluk nyata yang terkadang memberimu saran menurutnya lebih menyenangkan dibanding berbicara sendiri pada sebuah buku—kau tahu ia tak pernah suka diacuhkan.
Tapi hari ini genap dua minggu sejak Charlotte tahu bahwa Bradley tak kembali ke sekolah... gadis kecil enam belas tahun itu tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
Rasanya seperti kehilangan sebagian dirimu yang lain, kau tahu? Terlalu banyak perasaan yang ia tumpahkan pada bocah itu sehingga ketika Bradley pergi, ada secuil bagian di hatinya yang juga pergi. Rasanya tak sama lagi. Apalagi ketika tak ada yang tahu ke mana adiknya itu hengkang, pembuluh-pembuluh darahnya seolah beralih mengalirkan kecemasan. Gosip-gosip murahan bilang bahwa Bradley diculik hantu—yang tak mungkin ia percayai karena setahunya, adiknya itu berteman dengan para hantu. Kehilangan tak pernah membuatnya merasa baik, sejauh ini, padahal sejak umur delapan tahun Charlotte sudah begitu sering menyakiti hatinya tiap kali ia ditinggal seseorang.
Rasanya tak habis-habis. Dulu ayahnya, lalu Dylan, dan kini Bradley.
"Mengapa tidak Sebastian saja yang mati?"
Ia sedang mencoret-coret buku hariannya dengan sedikit bar-bar—punggungnya menempel ke batang pohon dan kedua kakinya lurus berselonjor—ketika lengkung oranye matahari perlahan turun ke balik pegunungan yang menggelap. Di tangannya sebatang rokok hampir habis, terkepit manis di antara telunjuk dan jari tengah tangan kirinya yang tak menulis. Batang ketiga yang ia habiskan hari ini setelah sejak siang ia membakar dua dengan cepat, gadis itu tak beranjak meski ia akui matanya mulai perih dan mulutnya terasa pahit. Ini kali keduanya setelah hampir dua tahun Charlotte tak lagi aktif merokok—ia biasanya merokok karena ada masalah, dan kali pertamanya ketika musim panas lalu ia bertemu Tequilla Sirius, lelaki itu jelas masalah baginya—rasanya tubuhnya tak merespon dengan baik.
Hari sudah hampir gelap ketika gadis itu tiba-tiba saja merasa lelah, ada suara-suara yang sepertinya ia kenal membuatnya ingin menoleh. Charlotte memutar tubuhnya tanpa beralih karena rasanya suara itu tak terlalu jauh... hingga iris cokelat terangnya menangkap sekumpulan anak yang jelas-jelas dikenalnya sedang berkumpul di balik pohon yang sedang disandarinya: Bentz, Mariam, Erfart, Frontsmith,
Czechkinsky..."Accidentally meeting, huh?" tanyanya mengulum senyum, kelingking-tangan-pengepit-rokoknya bergerak menghalau rambut-rambut yang menutupi wajah. Sebelum kemudian berdiri, Charlotte menghampiri teman-teman seangkatannya dengan buku harian didekap di depan dada.
"Hai..."