Selasa, 13 Juli 2010 01.20
She's My Big Temptation / II
Ia tahu merokok bukan sikap yang pantas ditunjukkan oleh seorang Prefek, tapi anak ini pun tak kelihatan berkelakuan baik. Penilaiannya biasanya tepat—orang-orang bilang Dylan Klebold menyeramkan, tapi nyatanya orang itulah satu-satunya tempat Charlotte bercerita. Dulu—jadi ia tak takut Brian mengadukannya pada Profesor. Biasanya anak-anak tipe Brian mudah dinepotisme, tapi kalaupun tidak, Charlotte takkan membiarkan nama baiknya dihancurkan. Meski sebenarnya ia
memang bukan anak baik—yang membuatnya bingung ketika lencana Prefek mampir ke rumahnya. Dumbledore tidak salah?—posisinya sudah di atas, dan gadis seperti dia takkan pernah rela diturunkan hanya karena laporan seorang bocah atas kebandelannya merokok di sekolah.
Sepandai-pandainya tupai melompat memang suatu saat akan ketahuan, tapi ia ular, dan ular tak melompat. Sejauh ini Charlotte selalu bisa menemukan tempat aman untuk merokok dan membungkam orang-orang yang melihatnya, jadi yah, santai.
“I’m a big fan of you. Jadi kuterima detensinya kalau itu darimu, asal tak melibatkan kucing dan teman-temannya yang mengeong.”Kedua lengkung alisnya bersatu dan dahinya berkerut ketika si bocah Brian berkata bahwa dia ngefans Charlotte—sesuatu yang tak pernah terjadi sejak ia lahir ke dunia.
Ngefans. Ayahnya bilang tampangnya memang tak jelek-jelek amat tapi baru dia dengar bahwa ada yang menggemarinya seolah dia Celestina Werbeck yang menyanyi sambil salto... dan rasanya ia memang tak punya kelebihan hingga pantas punya seorang
fans—rasanya menggelikan. Terpancar di matanya yang menatap si bocah Brian sambil sesekali menghisap rokok, Charlotte hanya mengangguk-ngangguk kecil mendengar perkataan bocah itu yang berkejaran.
Tak mendengar dengan pasti, karena kini fokusnya mulai melayang ke mana-mana. Ia memikirkan Bradley, pelajaran-pelajarannya, sekilas si bocah Brian, ke mana adiknya pergi, sedikit tentang Miloslav Czechkinsky yang membuatnya memalingkan kepala selama sedetik, apa kira-kira yang sedang dilakukan Christabel dan kemungkinan teman sekamarnya itu mendengarkannya besok pagi... keresak dedaunan, semilir angin, bau tembakau, kerlip bintang—Antares?
“Aku menyukaimu,… Sudah.”Pffft... Kelopak matanya membesar, takjub akan keberanian bocah kecil itu mengutarakan 'aku-menyukaimu'. Charlotte tentu tak menganggapnya serius, tapi mengundangnya ke menara malam-malam terlalu 'berat' untuk sekedar bermain-main. Satu sudut bibirnya tertarik, kecut, sebelum ia bergerak membuang sisa rokoknya yang tinggal dua per tujuh, menginjaknya sampai padam dan mengalihkan pandangannya pada si bocah Jeremy Brian.
Jeda.
"Kukira kau akan menunggu sampai rokokku habis," ujarnya kemudian, mengumpulkan rambut tergerainya yang diterbangkan oleh angin. "Dan ya... ya... pernyataan bagus, Brian. Aku juga menyukaimu, yeah... aku selalu menyukai
semua murid Hogwarts meski kau bukan Slytherin,"
kecuali kalau kau memancing masalah denganku... Kalau tidak mana mau Charlotte jadi Prefek dan repot-repot menjaga anak orang dari kerusuhan dan saling membully sesama. Kalau tidak mana ia peduli, ketika seorang anak menyihir api dari tongkatnya dan nyaris menghanguskan teman seasramanya kalau jubah anak itu tidak Charlotte padamkan beberapa hari lalu, atau menyita Frisbee Bertaring seorang cebol dari Ravenclaw yang hampir melibas Snape. Ia...
suka, yeah.
Bocah-bocah itu, yang sebenarnya membuat gadis itu pusing setiap kali para Profesor mengeluhkan ulah murid-murid Hogwarts yang semakin barbar.
Tapi perlukah... di tempat seperti ini? Malam-malam?
Charlotte menghela nafas. "Aku tak tahu apa maksudmu mengatakan semua tadi, Brian. Tapi kalau tak ada yang ingin kau bicarakan lagi mungkin sebaiknya aku pergi. Aku takkan melaporkanmu, tenang saja, hati-hati di tangga ada Filch." selorohnya cepat, berpikir mungkin sepertinya dia salah orang.
Ya, ya, masih ada Christabel. Mungkin curhatnya bisa ditunda sampai besok.