Selasa, 13 Juli 2010 01.19
It's Night Time
Charlotte terbiasa menjalani tugasnya sebagai Prefek. Hari itu malam, dan ia bahkan tak ngantuk sama sekali. Mungkin ini jugalah yang menjadi alasannya menerima jabatannya sebagai penjaga sekolah: ia jadi ada kerjaan untuk dilakukan. Meski membosankan, nyatanya selama hampir dua tahun ini Charlotte menikmati jalan-jalan malanya di lorong-lorong untuk mengecek penyusup bandel. Karena biasanya setelah itu ia jadi lelah dan tidurnya selama beberapa jam kemudian bisa nyenyak. Semua masalahnya seolah terlupakan—hal yang paling penting bagi seorang anak perempuan dengan insomnia karena masalah.
Tap.
Langkahnya tanpa bunyi, ketika kedua kaki jengjangnya membawa tubuh gadis enam belas tahun itu memasuki Ruang Rekreasi. Kepalanya menunduk dan tangannya memijit tengkuk—membuat surai-surai cokelat gelap Charlotte sedikit turun menutupi wajahnya yang sedikit mengantuk. Ia lelah, sudah lebih dari lima kali diputarinya koridor lantai dasar sebelum Profesor Snape benar-benar yakin bahwa tak ada lagi anak yang mencoba menyusup keluar. Sambil mengutuk Kepala Asramanya itu ia terus berjalan masuk, merasakan semua sendinya hampir coplok karena terlalu lama berkeliaran tanpa sedikit pun beristirahat.
"Apa yang kau lakukan, bocah?"
"Mendandani Ketua Murid Hogwarts yang tercinta." Dikiranya Ruang Rekreasi asramanya gelap dan sepi, karena jelas malam sudah larut. Tapi ternyata tebakannya salah karena dapat ia lihat sekumpulan ular sedang bercengkarama malam hari.
"My... my..."
Ia sempat terkesiap sebelum di wajahnya kembali terpasang seraut wajah malas dan lelah. Menghempaskan tubuh di salah satu kursi tempat seorang bocah sedang mencoreti wajah Cornwell, Charlotte kemudian mengendurkan simpul dasinya yang sejak tadi terasa mencekik. Dahi gadis itu berkerut ketika didengarnya bocah berambut pirang tadi menyapa Maverick dengan 'Senior'. Kemudian mendengus pelan, perlahan dilepasnya ikatan yang mengucir rambutnya menjadi ekor kuda, menghangatkan tengkuknya yang kedinginan sejak tadi. Charlotte menggeliat kecil hingga kini posisinya cukup nyaman bahkan untuk tidur.
"Tidak ada panggilan 'Senior' di sini, bocah. Kita bukan musang," ujarnya, seulas senyum terkulum di wajahnya yang hampir tertidur. Sudah bukan rahasia lagi kalau di Slytherin mereka tak pernah memanggil yang lebih tua dengan sebutan 'Senior'. "Kehormatan di sini diukur oleh ini," Ia menempelkan telunjuknya di pelipis, "bukan oleh usia, boy. Kau harus pintar-pintar agar orang mau menghormatimu." kemudian ia melanjutkan. Memutar bola mata ketika dilihatnya wajah Cornwell belepotan tinta.
"Bangunkan Cornwell, Maverick." tukasnya sedikit sebal, " Aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan pada bocah yang kurang ajar pada Ketua Murid. Aku tak pernah suka Ketua Murid
kita diperlakukan kurang sopan." Karena menurutnya Ketua Murid adalah 'wajah' mereka di depan publik. Harga diri mereka. Yang mendasari Charlotte melindungi Tequilla Sirus mati-matian ketika sekumpulan Gryffindor Barbar melempari moron pirang itu dengan pie—
—kalau ular itu sendiri saja sudah tak menghargai Ketua Murid sebagai sesuatu yang pantas untuk dihormati, bagaimana dengan yang lain?