Selasa, 13 Juli 2010 01.18
:-$ / I
Once i thought i was out... they pulled me back in.Hidup itu aneh ya? Tak adil. Berkali-kali Charlotte merasakannya namun baru kali ini ia pikirkan secara mendalam, ketiga kalinya, setelah lagi-lagi ada darinya yang dibawa pergi. Rasanya dulu ia makhluk paling bahagia di dunia. Setelah ayahnya muncul dan bilang bahwa Charlotte adalah keturunan Stefano Bontade, semua keraguannya seolah lenyao. Waktu itu umurnya memang baru lima tahun, dan sebagai seorang anak kecil yang belum merasakan pahitnya hidup, tak seharusnya ia merasa menderita. Tapi ketika yang kau miliki hanya ibu, sementara anak-anak lain di sekitar rumahnya belajar sepeda bersama ayah, bukahkah sudah sewajarnya kalau ia bertanya-tanya? Tiga tahun ia merasakan kebahagian itu, tiga tahun sebelum ayahnya tertembak mati. Gadis itu kemudian dikirim ke Hogwarts dalam keadaan yang tak stabil, dan sikap anti sosialnya membuat Charlotte tak punya cukup teman. Siklus hidupnya naik turun, ia kira ia akan sendirian selamanya sampai kemudian ia bertemu Bradley di kelas kosong... juga Dylan. Dan Christabel Vittore yang selalu setia menemaninya di kamar asrama.
Segelintir orang tempat di mana hanya pada mereka Charlotte bisa 'menaruh' segalanya. Ia tak pernah minta banyak, kan? Sampai kemudian satu persatu dari mereka beranjak pergi meninggalkan gadis itu tanpa sempat mempersilahkannya untuk berbuat apa-apa—kau pikir sekarang bagaimana perasaannya? Inginnya hatinya hambar, namun bagaimanapun dilupakan tetap saja rasanya sakit. Kepergian mereka seolah menegaskan eksistensinya yang tak perlu diperhitungkan. Tak penting. Charlotte Demelza Ryan—
memangnya dia siapa?Kini di bawah naungan rindang pohon ek di halaman ia jadi bertanya-tanya kapan tepatnya Christabel akan pergi, karena meskipun ia tak ingin, hal itu
jelas akan terjadi.
Kedua kelopak matanya kini terbuka sayu, sementara bola mata cokelat terangnya bergulir malas ke arah danau. Hari sudah hampir sore dan matahari sudah condong ke arah barat, pantas saja dia ngantuk. Sudah hampir tiga jam Charlotte duduk menyandarkan diri di balik sebuah pohon ek besar yang di kiri-kanannya penuh ditumbuhi semak. Sengaja, niatnya tak ingin bertemu siapapun. Tapi lama-lama ternyata bosan juga, dan gitar baru yang sejak tadi tergeletak di sampingnya terlalu menggoda untuk dimainkan. Meskipun kenyataannya ia sama sekali tak bisa main gitar... kalau bukan untuk dimainkan, apa gunanya Gabriele mengirim rongsok itu pada Charlotte?
Ada deham kecil yang tercipta ketika ia dengan sedikit sok tahu menaruh gitar itu di pangkuannya. Kepalanya sedikit tertunduk, dahinya berkerut ketika perlahan diletakkannya jari-jarinya yang kaku di atas senar. Tangan kanannya bergerak memetik senar-senar itu dengan hati-hati.
Jreng... jreng... jreng...Tiba-tiba ia teringat sebuah lagu. Lalu senyumnya tersungging kecil sebelum ia mulai bernyanyi.
"There's a song that's inside of my song... It's the one that I've tried to write over and over again. I'm awake in the infinite cold. But you sing to me over and over and over again."
Lumayan. Meski kunci gitarnya asal-asalan dan genjrengannya tak bisa dibilang merdu, nyanyiannya tak bisa dipandang rendah. Karena ibunya Anna Bontade. Di Sicily, siapa yang tak mengenalnya?
Credit: Mandy Moore-Only Hope. Anggep aja itu lagu penyihir random taun segitu ya 8DD *dicekek*
Dan ini gitarnya, btw.