Selasa, 13 Juli 2010 01.20
She's My Big Temptation / I
Charlotte memang punya insomnia, tapi bukan itu yang jadi alasannya belum tidur di malam selarut ini, kini. Katakanlah otaknya konslet—sejak kehilangan Bradley yang tak jelas juntrungannya, kelakuannya memang sedikit tidak biasa. Ia jadi sedikit...
aneh. Hal yang biasa terjadi tiap ia mendapati satu persatu orang yang dicintainya berguguran, batinnya seolah terguncang, dan biasanya butuh waktu lama agar ia kembali seperti dulu.
Dulu—masa yang selalu ia rindukan. Sayangnya hidupnya penuh masalah dan kemudian ia terbentuk jadi gadis labil yang menyebalkan. Charlotte bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia dapatkan apa yang ia inginkan, juga untuk berharap, sudah lupa ia lakukan. Tapi kini miliknya beterbangan satu persatu, jadi wajarlah kalau dia jadi aneh.
Buktinya Charlotte mau-mau saja ke menara demi menemui seorang bocah bernama Jeremy Brian yang bahkan tak pernah dilihatnya—ia butuh pelampiasan. Bukan yang macam-macam, hanya sekedar teman untuk bicara. Ia tak peduli lagi pada siapa ia memuntahkan segalanya sekarang, ketika
spacenya penuh dan tak ada yang bisa menampungnya. Persetan siapapun itu Jeremy Brian, tak peduli apa sebenarnya alasan bocah itu memanggilnya ke tempat ini—ah, egois? Memangnya kau baru tahu?
Kini cobalah mengerti bahwa sebagai seorang Slytherin, dominasi harga dirinya begitu tinggi, begitu pula egoismenya.
Jubah hitamnya ia pasang erat, helai-helai rambut cokelat gelap gadis itu terbang menutupi wajahnya ketika angin malam menerpa langsung. Menara di malam selarut ini sebenarnya bukan tempat dan waktu yang tepat untuk seorang Prefek yang seharusnya berpatroli. Wilayahnya di koridor lantai satu, tapi kini ia tak peduli lagi ketika ceramah Snape memenuhi kupingnya hingga ia muak, dan tempat ini... mungkin satu-satunya pilihan.
Lengkung bibirnya tersenyum tipis, formal, menggumamkan 'hai' pelan sekedar salam formalitas. Gadis Italia enam belas tahun itu kemudian berjalan mendekati benteng, sedetik menumpukan berat badannya di sana sambil mengedarkan pandangan ke Hutan Terlarang yang sepenuhnya gelap—kedua tangannya terlipat di atas dinding batu sebatas dada—sebelum berbalik, memusatkan kedua iris cokelat terangnya pada seorang bocah berambut brunet. Jeremy Brian—rite?
"Jadi... apa yang membuatmu begitu berani menyuruhku ke tempat ini, eh? Ketika seharusnya aku mendetensimu karena keluyuran." ujarnya sambil bersandar, santai, merogoh sakunya dan mengeluarkan sebatang rokok dari kotak. Dinyalakannya dengan pemantik, dan dikepitnya di kedua jarinya yang mendekat ke arah bibir. Tatapannya masih menunggu... karena kalau bocah itu tak mau bicara, biarkan dia yang bicara. Atau mungkin pergi, mengistirahatkan sendi-sendinya yang mulai lelah di balik selimut yang nyaman di kamar anak perempuan. Ia ingin tidur—
—tapi juga ingin bicara. Pada seseorang. Siapa saja.