Minggu, 29 November 2009 03.41
When Did You Last See Your Father? / III
When did you last see your father?Manusia datang dan pergi, mereka datang, sekejap, kemudian pergi.
Manusia datang dan pergi, Charlotte, tidakkah kau belajar hal itu?
Manusia datang dan pergi, seperti hembusan angin, seperti helaan nafas, seperti burung-burung yang mengepakkan sayapnya jauh di angkasa. Seperti musim semi...
Manusia datang dan pergi...When did you last see your father?...seperti Papa? Mama? Guiseppe? Gabrielle? Karl? Dan semua orang yang pernah bersinggungan dengannya―takkan terpungkiri, mereka akan pergi secepat mereka bisa. Meninggalkan Charlotte sendiri, menjauh darinya seolah ia buruk rupa penyebar penyakit mematikan; memeras segala keuntungan yang masih tersisa dari tubuhnya yang ringkih, lalu, seperti angin, mereka melenggang pergi dan berlalu tanpa kabar. Padahal Charlotte suka angin, angin selalu membuatnya sadar bahwa dia
masih seorang manusia yang hidup dan bernafas; menegaskan eksistensinya di muka bumi. Tapi sifatnya, Charlotte tak terlalu yakin, angin selalu tak peduli padanya dalam jangka waktu cukup lama bahkan kadang meninggalkannya tanpa pamit.
Seperti batu, ia jadi si 'tak-tergoyahkan'. Diam di tempat menanti angin lain berhembus ke arahnya. Menikmati sebentar sensasi menyejukkan yang mereka bawa sebelum kemudian kembali ditinggalkan. Jahatkah ia?
Nah hari ini, Senin yang cerah 23 April 1984, Miloslav Czechkinsky―salah satu
singa dari Gryffindor―adalah angin yang secara tak sengaja berhembus menghampirinya. Charlotte yang tadi lalu tersenyum, hanya karena menyadari akhirnya ada juga seseorang yang bisa diajaknya bicara, yang bisa jadi tempat ia membanggakan ayahnya yang begitu ia sayangi. Meski pada akhirnya, pemuda itu takkan lagi menoleh jika suatu hari nanti mereka berpapasan di koridor atau kelas―siapa yang peduli? Sang batu sudah tergeletak begitu saja sejak lama, terkikis angin, tertetesi air hujan, tertimbun salju; hal-hal yang membuatnya, meski permukaannya kini kasar, tak lagi lemah terhadap hal-hal remeh macam ditinggalkan dan dicampakkan.
Keluarganya bahkan sudah membuangnya, sesuatu yang akan mereka bayar di masa depan.
Lagi-lagi gadis itu terbatuk deras (aneh, mengingat tadi kondisinya sesehat Dumbledore belasan tahun), menggetarkan bahunya lembut juga beberapa helai rambut yang tersampir di atasnya. Kepalanya pening, membuatnya tak mampu berpikir apapun apalagi tentang bingkai yang pecahannya berserakan di dekat kaki. Tubuhnya lemas, kau tahu? Seolah syaraf-syaraf tubuhnya berkoalisi untuk menentang kehendaknya secara bersamaan, Charlotte Demelza Ryan bahkan tak sempat menepis ketika Chechkinsky menarik bahu dan mendudukkan gadis itu di atas kursi. Samar-samar bisa ia dengar kecemasan Czechkinsky dan tawaran untuk mengantar, tapi selain itu, semuanya sebatas dengungan. Bzzt... Bzzt... seperti itu,
mungkin.
"A-aku baik-baik saja Czech―" (batuk) "―Czechkinsky. Kau...
pergilah..." ujarnya dengan dahi berkerut, berusaha memfokuskan pandangannya ke arah si pemuda. Kerutan di dahi itu asalnya sedikit, namun semakin berlipat seolah ia renta berumur seratus tahun ketika dilihatnya seseorang datang mendekat. Uhm... Maggia, Hufflepuff satu angkatan. Apa yang dilakukannya―
"HEI!" bahkan pertanyaannya dalam hati belum selesai dan sebuah pukulan dilayangkan Maggia ke arah Czechkinsky! Charlotte menyeru cukup keras, refleks, sebelum tubuhnya yang lemas membentur lelah dudukan kursi. Ia berusaha berdiri, menghalangi Czechkinsky dengan tubuh mungilnya yang sebenarnya lemah. Insting, siapa tahu Maggia memukul untuk kedua kali. Meski sebenarnya ia sendiri tak habis pikir karena semua terjadi begitu cepat―kenapa tiba-tiba memukul? Mereka punya masalah sebelumnya? Apapun itu, lakukan ketika Charlotte sudah pergi karena ia tak ingin ikut campur dalam masalah, saling membunuh pun bukan lagi urusannya.
"Berhenti kalian―
kau terutama atau kumantrai kalian berdua agar diam dan patuh," ujarnya, menarik keluar tongkat sihirnya secepat ia bisa kemudian mengacungkannya ke arah si rambut ikal dari Hufflepuff. Lalu ia berpaling, menolehkan wajahnya ke belakang ke arah Czechkinsky sebelum lagi-lagi mengerutkan dahi melihat pipi pemuda itu yang memerah. "Kau... baik-baik saja?"
refleks, tangannya bergerak menyentuh bagian yang luka, sebelum tiba-tiba sebuah ingatan berkelebat cepat di benaknya―
“Bicara keturunan, kupikir cuma orang jalang saja yang bisa dengan santainya… menyentuh orang lain dengan cara begitu.”―membuatnya menarik kembali tangan mungilnya cepat dan berpaling, seolah tadi ia sama sekali tak pernah menoleh. "Maaf," gumamnya pada seseorang di belakang, sedikit salah tingkah.
Tangannya yang memegang tongkat masih teracung, ngomong-ngomong. Dan Papanya terlupakan.
Sejenak.
Flashback credit to Tequilla Sirius @Evening Solace.