Sabtu, 26 September 2009 09.27
When Did You Last See Your Father? / I
When did you last see your father?A father is someone that
holds your hand at the fair―Tak pernah sedetik pun akan hilang dari ingatan tentang hari ini, saking sempurnanya alam tersaji. Hari menjelang siang dan matahari bersinar cerah, menambah semarak suasana jika kau melongokkan kepala ke luar kastil; ke halaman melewati kebun sampai ke danau hitam. Ini musim semi. Ketika kuncup-kuncup bunga mulai bermunculan dan menggeliat sebelum mekar warna-warni, seirama dengan rumput-rumput yang menghampar juga pucuk-pucuk daun. Lalu angin, yang membawa bau mereka hinggap ke hidung. Merah, kuning, jingga dan sedikit-sedikit ungu, merah jambu, hijau yang menghampar juga coklat batang pohon; entah mengapa mengingatkan Charlotte pada lukisan
Poppies Blooming karya Monet yang tersohor. Si pelukis dari Prancis.
Kaki mungilnya mampir sebentar, menghentikan langkahnya di dekat sebuah batu besar dengan semak perdu. Ia merapatkan jubah Hogwartsnya sebelum menoleh kecil sehingga rambut-rambut coklatnya ikut bergoyang. Menatap tanpa maksud permukaan Danau Hitam yang tenang tanpa riak; mengerjap sekali, gadis itu, dengan sebuket bunga segar di tangannya kembali menoleh dan melanjutkan langkah. Sendirinya bertanya-tanya dalam benak tentang maksud,
mungkin mencoba meniru sifat air―untuk hatinya?Ada gemuruh deras yang menggedor-gedor jauh di lubuk hati. Yang dimulai ketika ia melihat tanggal di kalender, lalu sadar, dan ombaknya bergulung-gulung bahkan sampai kakinya menjejak koridor lantai empat. Dan berbelok. Ada decit yang tercipta ketika pintu yang kelihatan berat itu terbuka dengan hati-hati, lalu debum kecil ketika bilahnya kembali terhempas. Mengurung tubuh mungil si gadis di kubus raksasa berukuran―mungkin―tujuh kali lima meter atau lebih. Kemudian keheningan, yang membuat tapak-tapak perlahan itu terdengar jelas meski teredam. Charlotte, entah untuk alasan apa, menjadi sangat lembut hari ini dan melakukan banyak hal terlampau hati-hati.
Gadis itu menyikat rambutnya sepelan mungkin hingga emasnya benar-benar berkilau tadi pagi, lalu melangkah dengan suara seminimal mungkin sepanjang hari ini. Mengunyah roti panggangnya dengan sangat hati-hati dan mengangkat gelas jusnya tanpa buru-buru. Juga menggores penanya sampai-sampai seperti mengukir. Yang ia sendiri tak tahu alasannya mengapa. Semacam gerak refleks spesial; muncul sejak hari ini dan sampai hari ini berakhir. Hanya karena ia tahu ini tanggal berapa.
23 April 1984; musim semi.―makes sure you do what your mother says
holds back your hair when you are sick
brushes that hair when it is tangled because mother is too busy―Hari biasa bagi orang lain, tapi yang akan diperingati olehnya sendiri. Setidaknya di tempat ini, yang sayangnya cuaca terlampau cerah.
...
Charlotte membenturkan punggungnya dengan pintu yang langsung bergetar lembut. Mengedarkan pandangannya dan meneliti tiap-tiap detail memanfaatkan matanya yang coklat terang. Buket dan kotak di tangannya mendengkur halus ketika tubuh gadis itu naik-turun saat bernafas, petal-petal mawar paling atas bahkan bagai ditampar ketika udara terhela dari celah hidungnya dengan deras. Satu menit ia bertahan, lalu menit-menit selanjutnya dan tubuhnya bergetar sedikit, ada kegusaran terpancar jelas di sana. Dari nafasnya yang memburu dan bola matanya yang berputar lebih cepat. Serpihan-serpihan nyawa mulai terkumpul dan mungkin kini ia sadar, bahwa tempat ini, dengan cat putihnya yang menyeluruh, terasa asing bagi pandangan.
Ada yang mengganjal dengan jelas di hati. Tak seharusnya ia di sini, batinnya memperingatkan terus menerus. Mengabaikan siklusnya yang bagai boneka seharian tadi, mungkin kemanusiaannya mulai muncul lagi sedikit-sedikit. Charlotte tak seharusnya berdiri sendirian di kelas kosong lantai empat kastil Hogwarts ketika tanggal menunjukkan 23 April, mungkin Palermo atau Waterloo bersama ibu dan Guiseppe lebih masuk akal. Bulu matanya bergerak-gerak cepat ketika gadis itu mengerjap lalu menggigit bibir. Sadar bahwa entah mengapa akhir-akhir ini kelakuannya benar-benar abnormal membuat kegusarannya semakin menjadi-jadi. Otaknya telah dikacaukan dan melenceng dari sistem, mungkin sebentar lagi Charlotte akan gila.
Berpikir bahwa sebaiknya ia loncat dari jendela dan terbang ke Waterloo semakin membuktikan bahwa otaknya tak waras.
"Kembalilah ke Hogwarts, Charlotte. Di sana lebih aman―"Kemudian ia menyadari bahwa beberapa bulan lalu ia telah ditolak. Dan getar kegusarannya berganti kemarahan. Betapa cepat emosinya naik-turun, dan karena kelabilannya mungkin sebentar lagi Charlotte akan menjagal orang dan menguliti mereka seperti
Fritz Haarmann; danau hitam tak terlalu buruk untuk membuang sisa semacam tulang. Tapi mungkin pasrah akan keadaan dan usaha untuk membuat dirinya tetap waras, Charlotte akhirnya menghela nafas lagi untuk meredakan dan mengalihkan kemarahannya ke semacam rasa bertajuk kesal. Ia berjalan, seperti niatnya semula, ke sebrang ruangan di mana kaca-kaca dalam kusen membiaskan sinar mentari riang, kemudian berlutut.
Meletakkan sebuah bingkai di dinding rendah belakang jendela, juga sebuket bunga mawar sedikit layu, sudut bibirnya akhirnya mengulas senyum. Tanya sekali lagi padanya kapan ia terakhir kali melihat sang Ayah, maka dengan ringan akan dijawabnya '
baru saja'. Binar matanya merefleksikan dengan jelas, segurat wajah yang sedikit mirip, dan senyumnya mengisyaratkan bahwa sosok dalam bingkai begitu berharga. Senyum dan tatapan mata yang dikombinasikan itu, hal langka yang tak akan pernah ia berikan pada siapapun di lingkup Hogwarts mengingat mereka semua tak lebih dari macam-macam brengsek berkedok siswa.
―lets you eat ice cream for breakfast
but only when mother is away
he walks you down the aisle―Sosok itu, Ayahnya. Yang berulang tahun tepat hari ini dan genap empat puluh lima tahun andai saja jasadnya belum terkubur. Sedang tersenyum manis dalam potret hitam putih ke arah Charlotte. Dan karena itulah hari ini istimewa, 23 April ketika matahari musim semi bersinar cerah. Charlotte menunduk sedikit, menyatukan kedua tangannya di depan bibir kemudian bergumam kecil. Sedikit doa untuk keselamatan dan kebahagiaan, 'semut-semut' yang menggerayangi lututnya sama sekali tak terperhatikan.
"Selamat ulang tahun, Papa. Semuanya akan baik-baik saja," bisiknya lirih; seiring jemari lentiknya mengusap kayu bingkai dengan perlahan. Sekilas, apalagi jika kau melihat sorot matanya, gadis kecil itu akan terlihat seperti seorang yang obsesif dan begitu kehilangan. Jiwanya memang sudah sakit sejak 3 tahun lalu.
―and tells you everythings gonna be ok.
"Semuanya akan baik-baik saja, Charlotte. Kembali ke dalam dan temani Mamamu,"Gadis itu, hanya anak kecil dua belas tahun yang begitu menyayangi ayahnya sedemikian rupa. Yang rasa sayangnya merasuk ke dalam daging bagai candu. Yang ayahnya mati ketika bahkan sang gadis baru beberapa saat bisa mengucapkan 'Papa' dengan fasih. Yang baru sadar, ternyata ayahnya bisa juga membual di saat-saat terakhir―dan entah mengapa bibirnya malah lagi-lagi mengulas senyum.
Hey Charlotte,
―and when did you last see your father?Baru. Baru saja. Masih malah. Ya kan,
Papa?
foto ayahnya 8DD. Quote by Unknown at
here