Minggu, 29 November 2009 03.40
When Did You Last See Your Father? / II
When did you last see your father?Jika manusia boleh meminta pada Tuhan akan jadi apa mereka di kehidupan selanjutnya setelah mati (dan jika kehidupan itu memang ada), bolehkan Charlotte memilih untuk tak dilahirkan kembali sebagai manusia? Dan andai Tuhan bisa mendengar, juga mengabulkan segala keinginan makhluknya, mungkinkah ia melontarkan permohonan kecil untuk pendisfungsian hati? Atau mungkin mengatur agar seseorang menghantamkan pemukul ke kepalanya hingga semua kenangan yang bersemayam tandas tak bersisa? Dan ia bisa memulai kembali kehidupan dengan alur yang ia tentukan sendiri; tak ada kabar buruk dan kesedihan hingga ia benar-benar mati tanpa rasa.
Bisakah?Terkadang, mendapati kenyataan bahwa
ia yang menjadi seorang Charlotte Demelza Ryan terasa begitu menyiksa. Berdiri dengan kedua kaki jenjang
itu, mengedip dengan bulu mata coklat lentik
itu, bernafas untuk menghidupi tubuh yang
itu, dan segala kehidupan yang berputar-putar menjemukan di sekeliling gadis
itu tak lebih dari serangkaian siksaan yang membunuhnya dengan perlahan. Charlotte Demelza Ryan hidup di dunia yang terlalu monoton dan terlampau buruk dengan orang-orang bodoh membayangi bagai udara. Sungguh sial bagi gadis itu dengan menjadi seorang Charlotte; orang bodoh selalu membuatnya ingin mati. Tapi sayang, Tuhan tak kunjung mencabut nyawanya―jadi inilah dia: tersiksa di tengah-tengah kemeranaan.
Tsk.Waktu mengalir bagai air. Kini, dapat ia lihat dengan irisnya yang coklat terang, betapa berkas-berkas sinar matahari membuat banyak hal jadi lebih menyilaukan. Tapi warnanya yang hampir oranye memberi kesan teduh, membuat ruangan ini bagai lukisan jika kau melihatnya dari jauh. Di ujung, dekat jendela, Charlotte masih berlutut; satu tangannya di pangkuan dan yang lain menyentuh pinggiran bingkai dengan lembut. Kepalanya miring sedikit, membuat rambut coklat emasnya jatuh ke kiri, dan matanya hampir layu―menatap sosok tak bergerak di hadapannya penuh kerinduan.
Ayahnya... satu-satunya yang menganggapnya gadis biasa dan dengan tulus mengasihinya. Tak seperti ibunya yang tak peduli, Guiseppe yang digaji atau pemuda-pemuda brengsek yang buta hati―peduli hanya karena harta atau rupa. Ayahnya, yang mengajarinya banyak hal dan membentuknya sedemikian rupa, direnggut begitu saja ketika sang gadis baru sadar barang sebentar tentang betapa berharganya figur sang Ayah dalam kehidupan. Ia hanyalah seorang gadis kecil, yang belum pantas peduli dengan romantisme. Ia hanya seorang gadis yang menginginkan masa kecilnya seperti anak-anak kebanyakan. Tak terlalu muluk dibanding menguasai dunia atau menjadi Tuhan dari segala manusia, yang diinginkannya hanya Ayahnya dalam keadaan hidup. Tak lebih. Tapi Tuhan terlampau pelit.
"..."
Sosok gadis itu sekilas bagai pahatan seorang seniman yang hancur ketika tiba-tiba pintu terbuka. Menampilkan sesosok pemuda berambut hitam yang perlahan melangkahkan kakinya mendekat. Czechkinsky. Charlotte menoleh, menyipitkan matanya untuk melihat lebih dekat sebelum tiba-tiba saja di wajahnya terulas senyuman. Matanya berbinar, menunggu setiap langkah si pemuda Gryffindor mendekat. Senyumnya makin lebar ketika pemuda itu sampai tepat di sampingnya, setengah berjongkok melontarkan dua pertanyaan yang entah mengapa selewat saja di telinganya. Aneh, mengingat ia tak pernah sekalipun bicara dan sekedar tahu nama dengan Czechkinsky, tapi aliran darahnya menderas tanpa alasan.
Tetap saja... ada yang mengganjal.
"Ayahmu, Ryan? Kalau boleh tahu, kapan?""Ah! Czechkinsky, kebetulan bagus," ujarnya sumringah yang jelas dibuat-buat, menarik tangan Czechkinsky agar lebih mendekat, gadis itu kemudian melanjutkan. "Dia ulang tahun, kau tahu? Hari ini. Ayo ucapkan selamat padanya. Ayo, Czechkinsky. Ayo..." katanya tercekat. Tiba-tiba saja menatap lantai tanpa terfokus.
"C-Czechkinsky, kau harus melihatnya. Dia tampan dan hebat kan? Dia... dia..." (menoleh lagi ke arah Czechkinsky, mengerutkan dahi) "Kau... katakan sesuatu. Ayo katakan! Ucapkan selamat ulang tahun padanya, anak bodoh! Dia ulang tahun sekarang!" histeria sesaat, begitu semua beban selama hidupnya memuncak di satu hari, jiwanya jadi tak terkontrol. Selalu seperti itu, 23 April di tiap tahun, Charlotte Demelza Ryan berubah menjadi
liar.
Mengguncang-guncang tangan Czechkinsky yang ia pegangi sedari tadi, Charlotte terbatuk. Menyenggol tak sengaja buket bunga yang kemudian menggeser letak bingkai yang tersandar seadanya, persegi panjang dengan kaca itu oleng sebelum menghantam lantai.
Prang!, bunyinya berdengung di telinga Charlotte, dan entah karena apa membuat tubuhnya benar-benar lemas bagai terhipnotis. Matanya buram oleh kabut, dan kesadarannya melayang ke ujung langit.
Dan andai ia tertidur setelah ini, seperti biasa, esoknya takkan ada yang ia ingat. Czechkinsky, kesialanmu berada di tempat ini sekarang.