Minggu, 29 November 2009 03.44
Panggung Hogwarts Idol
Selalu... ada yang tidak menyenangkan di tiap tahun. Tapi tak pernah Charlotte sangka kalau tahun ini akan
benar-benar menyebalkan.
'KLING KLING'
'DUK'"Sial,"
Bahkan denting lonceng kuningan yang selalu terdengar setiap pintu kayu Three Broomsticks yang lapuk dibuka membuatnya sebal setengah mati tanpa sebab. Apalagi ketika lututnya tanpa sengaja membentur pinggiran pintu, yang membuat permukaannya sedikit berubah ungu dan tempurungnya dijalari rasa nyeri. Charlotte membanting sedikit keras pintu kedai minum yang baru saja ia lewati, berjalan cepat seolah ada Dementor yang siap menerkam mengejarnya di belakang. Terlampau kesal, ia akui, segelas besar Butterbeer yang ditawarkan tadi bahkan membuatnya mual hanya karena sekali tatap.
Sigh.
Tapi kemudian gadis itu sadar tak ada yang bisa dilakukannya, jadi ia memperlambat langkahnya dan menghirup nafas dalam-dalam untuk menghembuskannya lagi kemudian, dengan sama perlahannya. Menghilangkan segala beban, andai saja beban bisa bercampur dengan udara yang keluar dari paru-paru, dan membuang jauh-jauh kenyataan bahwa Profesor Septima Vector begitu menyebalkan sampai-sampai membuatnya muak—lagi. Menguapkan seluruh kekesalan melalui panas tubuhnya, bola mata coklat terang gadis itu menerawang ke seluruh bagian jalan.
Meski tak pernah ke tempat ini sebelumnya, Charlotte tahu, banyak yang berubah. Seperti hiasan-hiasan saat natal atau tahun baru, kertas-kertas krep beraneka warna menggelayuti bangunan-bangunan yang lusuh dan berdebu, dengan kayu-kayu mereka yang hampir keropos dimakan rayap. Toko-toko, yang kira-kira ada lima yang paling besar dihiasi ornamen-ornamen aneh yang membuat mereka timpang satu sama lain. Toko-toko itulah yang nantinya akan dipenuhi pengunjung-pengunjung, menikmati apa-apa yang disajikan oleh murid-murid yang proposalnya terpilih. Proposal Charlotte tepilih, yeah, meski sebenarnya ia sendiri tak terlalu yakin akan tahan berapa lama dengan turban dan kumis.
Sepanjang jalan, terus ke dalam, stand-stand tambahan yang menjual makanan-makanan ringan dan pernak-pernik berdiri dari kayu-kayu baru yang dipaku dengan sihir, masih kosong, yang nantinya akan diisi oleh mereka-mereka yang sekedar niat berjualan. Terus ke dalam, sehamparan tanah luas dengan rumput-rumput yang baru dipangkas membentang dilatari pagar-pagar Gubuk Menjerit.
Di atas lahan kosong itu, sebuah persegi megah berukuran tujuh kali tujuh meter berdiri kokoh. Lampu-lampu yang berjajar di tiang-tiangnya masih padam, tapi jika menyala, maka ia akan gemerlapan sampai Stasiun Hogsmeade. Sebuah panggung, yang nantinya akan jadi tempat gadis itu berdiri dan memasang topeng lagi lagi dan lagi. Bersikap sopan sok hangat padahal ia tak suka, tersenyum dan melambai pada kontestan dan penonton padahal ia muak.
Gadis itu menghempaskan tubuhnya malas di kursi empuk untuk penonton, mengedarkan kepalanya ke belakang ke arah meja-meja prasmanan tersaji, kemudian kembali ke depan. Ke arah panggung, kemudian benaknya mengawang...
Meskipun ini musim semi, kiranya ia tak harus memakai pakaian bunga-bunga di malam hari. Tapi ternyata Profesor Septima atau siapapun yang menyuruhnya melakukan ini terlalu norak untuk membiarkan murid dua belas tahunnya mengenakkan gaun pesta atau apapun yang lebih pantas dipakai di malam hari dan di atas panggung. Lihat Charlotte! Gaunnya hijau berbahan katun dengan bunga-bunga besar merah muda dan kuning! Astaga! Padahal ia ingin sekali pakai yang biru langit atau violet, sesuatu yang bisa membuat rambut emasnya terlihat lebih gelap dan menawan—yeah, gadis itu suka rambutnya.
Malam hampir larut sekarang, dan acara seharusnya sudah dimulai. Jadi, ia melangkahkan kakinya di atas panggung, dan sementara musik untuk para pedansa dipelankan, mikrofon di tangannya mulai berfungsi. Gadis itu berdeham pelan.
"Selamat malam semuanya, malam yang indah di musim semi ya," sapanya terlalu basi, tersenyum kecut di atas panggung. "Babak selanjutnya Hogwarts Idol akan segera dimulai, tapi sebelum itu, mari kita kenali juri-juri yang akan menilai para peserta malam ini. Seperti seleksi lalu, keempat kepala asrama dan kepala sekolah akan menguji seberapa jauh kalian berani di atas panggung,"
"Di babak ini, malam ini, akan diadakan dua kali voting dari para penonton, melalui tombol yang telah disediakan di dekat kursi kalian. Satu kali voting untuk menentukan dua finalis, dan satu lagi untuk menentukan siapa yang juara. Pertunjukan akan diadakan sampai tengah malam, jadi jangan lupa untuk mengambil kursi kalian dan mari kita sambut peserta nomor satu!"
Hhh... kau tahu, itu kalimat terpanjang yang pernah diucapkannya seumur hidup.
Rules :
-Seluruh peserta Hogwarts Idol silahkan repply di thread ini, setelah itu akan diadakan voting.
-Ketentuan posting seperti pada babak penyisihan.
-Sepanjang jalan Hogsmeade sudah diatur seperti festival, dengan stand2 kecil di sepanjang jalan di depan toko-toko yang dijadikan stand. Memanjang sampai ke depan Shriecking Shack, di mana di depan gubuk itu akan ada lapangan luas yang di atasnya berdiri panggung Hogwarts Idol. Di depan panggung, ada sebuah meja panjang dan kursi juri, dan di belakang tempat juri, kursi-kursi empuk untuk penonton tersedia tak habis-habis. Alat untuk voting seperti di Super Show di Indosiar.
-Di belakang kursi-kursi penonton, 5 meja prasmanan dengan banyak makanan di atasnya tersedia untuk kalian yang lapar. Yang di depannya ada area untuk berdansa dengan musik waltz. Siapapun boleh.
-Festival diadakan di musim semi, harap memakai kostum musim semi^^.