Selasa, 13 Juli 2010 01.21
:-$ / III
Ukh.Selalu. Selalu seperti itu. Sejak setahun lalu setelah ia sadar bahwa tak satupun dari kenalan lelakinya yang cukup 'baik', dan ternyata hanya Czechkinskylah yang tak menatapnya dengan tajam seolah dengan begitu ia akan terbelah jadi dua, sejak itulah rasanya ada yang berubah. Dia Charlotte Demelza Ryan, yang sejak hidupnya begitu jarang merasakan kebaikan dan karena itulah dia begitu menghargainya. Hatinya sebenarnya peka, sensitif—atau apapun yang sejenis dengan dua kata di depan—tapi sejak kematian Ayahnya ada cangkang yang 'melindungi' perasaannya seperti telur. Seperti rahim yang melindungi bayi dalam kandungan. Perlu sesuatu yang cukup keras, atau mungkin waktu yang cukup lama agar setidaknya... egonya tak lagi sekeras granit.
Tapi begitu pun batu yang ditetesi air terus-menerus, bukankah permukaannya takkan lagi sama?
Entah sejak kapan ia mulai mengenal lelaki berambut gelap di depannya, menerima kebaikan-kebaikan pemuda itu dan menyusahkannya dalam berbagai kesempatan. Berkali-kali ia menunggu kapan tepatnya Czechkinsky akan membenci Charlotte, yang ternyata tak kunjung dilakukannya... membuatnya makin merasa jahat. Dan bersalah.
Dadanya naik-turun dengan lembut ketika gadis Italia itu menarik nafas, menghelanya; bulu matanya yang melengkung bergerak-gerak ketika ia melakukan aktivitas manusia lainnya—berkedip. Kedua sudut bibir Charlotte tertarik kecil membentuk senyuman masam ketika Czechkinsky bilang penampilannya meyakinkan, tak yakin penyataan pemuda tadi itu sindiran atau apa. Kedengarannya terlalu 'tinggi' untuk sebuah pujian, kau tahu, mengingat permainannya betul-betul jelek dan seumur hidupnya ia tak sering dipuji orang.
Mungkin Czechkinsky sudah tahu kalau Charlotte
memang ratunya berpura-pura, gosip-gosip orang tentangnya tak pernah menyenangkan.
"Duduklah Czechkinsky," ia menepuk rumput di dekatnya, simbolis, benar-benar tak tahu lagi harus jawab apa. "Tak baik kalau kau jongkok terus begitu... memangnya tidak pegal?" ujarnya melanjutkan, menyetel posisi gitarnya jadi siap dimainkan.
Ia tahu yang menarik Czechkinsky ke hadapannya hanyalah permainan gitar dan nyanyiannya yang tadi seperti Banshee, jadi kalau sampai sedetik lagi yang dilakukannya hanyalah diam, rasa-rasanya pemuda itu akan pergi. Mungkin itulah yang menyebabkannya tak kunjung duduk sejak tadi—bingo, akhirnya ia tahu juga—tapi sayangnya keengganan Charlotte terasa begitu nyata. Ia tak ingin Czechkinsky pergi karena ENTAH MENGAPA konversasi mereka
selalu ia sukai, tapi tak mungkin menariknya agar tak pergi setakmungkin duyung berkaki meskipun era berteknologi.
"Belajar sendiri saja. Coba. Atau, yeah... Setidaknya tanpa gitar pun kau juga tetap bisa menyanyi, lah."Jadi ia hanya memetik-metik gitarnya asal, dengan bodoh berharap bahwa hal itu mungkin saja manjur. Charlotte mengerucutkan bibirnya kecil dan mengerlingkan bola matanya pada Czechkinsky ketika pemuda itu menyuruhnya mencoba belajar gitar sendiri—hal yang tak mungkin dilakukannya karena dia err...
sibuk—klise, memang, alasan yang dipakai suami-suami yang ketahuan tak memperhatikan anak-anaknya, tapi tak mungkin Charlotte belajar di tengah pikirannya yang berbelit-belit.
Ia masih memikirkan Bradley, luka segar yang tak mungkin mengering begitu saja. Ia masih memikirkan Dylan, juga ayahnya, codet yang takkan pernah hilang. Sudah lama gadis itu kehilangan minat pada banyak hal, sebenarnya, dan belajar memetik gitar bukan satu dari sekian hal yang bisa membuatnya cukup bersemangat.
Kecuali yah... kecuali...
"Turunan. Mamaku pemain musik yang hebat sebelum dia menikah dengan Papa jadi menular
sedikit," katanya, berusaha untuk tidak nyengir. "Tak terlalu bagus juga kalau diduetkan. Aku tak pernah benar-benar berlatih." ia melanjutkan, mulai memetiki gitarnya sedikit berirama. Sejak tadi ia memang mencoba-coba berbagai kunci yang dikarangnya sendiri, jadi di percobaan ke-sekian ini hasilnya memang tak terlalu buruk.
Tapi lagi-lagi keinginan bernyanyinya jadi timbul, dan pipinya sedikit merona merah karena tahu ini
pasti terdengar jelek.
"Jangan tertawa ya, eh, uhm... ini lagu kesukaan ibuku." ujarnya, berkata dengan volume sangat pelan. "I'm not surprised, not everything lasts, I've broken my heart so many times i stop keeping track." dan bernyanyi... keningnya berkerut tanda ia berkonsentrasi. Lipatan itu makin parah ketika ternyata gitarnya salah. Berharap Czechkinsky ikut bernyanyi...
Euh, Charlotte memang tak jago.
*credit to Michael Buble-Haven't Met You Yet. Request dari Arvid yang pengen dinyanyiin lagu yang cocok buat joget, tapi berhubung playlist pm mellow semua, jadi terimalah ini u_u *dicekek