Selasa, 13 Juli 2010 01.21
:-$ / II
Katakanlah Charlotte memang tak mahir bermain gitar, bisa kau dengar petikannya asal-asalan. Tapi ia menyukai lagu yang terlantun dari bibirnya, sehingga ia terus bernyanyi meski rasanya musiknya sumbang. Ia menikmatinya, karena ternyata nada-nada yang keluar entah mengapa menghanyutkannya sedemikian rupa. Mengawangkan benaknya ke kenangan-kenangan yang sebenarnya selalu coba ia lupakan. Musik itu menarik keluar sudut-sudut benaknya yang terdalam, memburaikan segalanya... hingga dadanya sesak oleh perasaan yang tak bisa ia gambarkan.
Ia menutup kedua kelopak matanya dan bayangan ayahnya muncul dalam sosok yang hampir nyata. Ada gurat bahagia di wajahnya yang sangat Charlotte rindukan, juga kerling jenaka, ketika suatu malam mereka bertiga berkumpul dengan denting piano dan nyanyian, juga tarian. Charlotte, Stefano, dan Anna Bontade. Hampir delapan tahun lalu beberapa bulan sebelum ayahnya mati terbunuh—memang sudah lama, tapi kejadian itu masih melekat di ingatannya seolah baru saja terjadi. Kini bahkan Charlotte sudah besar, tumbuh menjadi seorang gadis dengan tangan kaki panjang dan tubuh ramping yang semampai, tapi perasaan anak kecil itu...
...rasanya perasaan paling berharga yang pernah ia miliki.
Yang kini membuncah dan membuat dadanya lumayan sesak. Tak bisa ia abaikan. Semilir angin yang berhembus menerbangkan anak-anak rambutnya yang cokelat gelap bahkan tak membantu. Ia larut seperti gula, tapi tak bisa sepenuhnya karena pelarut berada di titik jenuh. Bagaimanapun tubuhnya ada di dunia nyata, dan ya, mau tak mau ia harus kembali ketika sebuah suara menyentaknya hingga
terbangun. Diiringi kerutan dahi perlahan kelopak matanya bergerak terbuka. Sedikit kesilauan, Charlotte mengerjap, berusaha menyesuaikan dengan cahaya.
"..." ada jeda sedikit sebelum gadis Italia itu kembali mengerjap-ngerjap tak percaya. Meletakkan gitar sewarna gadingnya terlentang di pangkuan, Charlotte kemudian membereskan rambutnya yang berantakkan. "Hnnn, Czechkinsky!" ujarnya sedikit gelagapan. Kepergok menggenjreng gitar padahal tak bisa bukan posisi tepat yang ia inginkan untuk ditemukan. Posisi jarinya asal dan nada-nada yang keluar benar-benar jelek. Dan baru kini ia sadari bahwa nyanyiannya juga tak begitu enak didengar—terlalu main perasaan.
Kini gerak-gerik gadis itu jadi sedikit kaku seperti maling. Menahan nafas, menghelanya... butuh usaha sedikit keras agar tercipta senyum di situ, di lengkung bibirnya yang merah muda. Astaga... kenapasihdia
selalubegini?
"Eh... Itu, kunci apa?""Errr..." Charlotte hanya terdiam ketika Czechkinsky bertanya padanya soal
kunci. Jelas dia tak tahu karena bahkan ini kali pertamanya memetik gitar. Yang dia tahu hanyalah hasil petikannya tadi lumayan
nyambung—jadi untuk apa pakai kunci? Ia akui ia memang bukan pemain yang baik karena bermusik berdasarkan insting, tapi untuk mengatakannya pada pemuda berambut gelap itu... Charlotte...
(Terdiam sambil menatap Miloslav Czechkinsky, sedikit melamun)
Oh sudahlah, toh dia bukan pembohong. Sedikit tersentak dari lamunannya, dinaikkannya lagi gitarnya dengan sedikit linglung. Bibirnya mengulas senyum yang dikulum ketika dengan cepat ia menunduk untuk mengalihkan pandangan sambil bergumam 'maaf' yang sangat pelan. Lalu ia berkata, "Sebenarnya aku juga tak tahu..." nada bicaranya hampir terdengar seperti memelas. Seperti anak-anak yang merengek minta mainannya dikembalikan. Kepalanya kembali terangkat dan matanya kembali menatap Czechkinsky karena kata ayahnya, ada kekuatan dalam setiap tatapan ketika kau berbicara. Biasanya ayahnya memanfaatkan kekuatan itu untuk mengintimidasi lawan, secara tersirat memperlihatkan kekuatannya—yang tentu saja tak ingin Charlotte lakukan dan tunjukkan karena Czechkinsky hanyalah teman, dan mereka di sini bukan untuk saling menindas.
"Gabriele—maksudku, sepupuku—mengirimkan ini padaku tadi siang dan yah... kau lihat sendiri bahwa benda ini tak terlalu berguna," menggoyang kecil gitar di tangannya. "Aku tak bisa main gitar." lalu menambahkan. Ia kembali tersenyum dengan canggung yang (sebenarnya) begitu kentara. Lalu diam—
—tak tahu lagi... kata apa yang harus dikeluarkan.
Tsk.